Seminar Basic Supervisory Skills
"SUPERVISORY SKILLS - IN A NUTSHELL"

Seminar Mindset Penjualan
"PRODUCTIVE SELLING MINDSET"

Seminar Pengembangan Diri, Leadership, dan Self Mastery
"HOW TO TURN MESS INTO MESSAGE"

Seminar Agen Perubahan - Agent of Change
"AGEN PERUBAHAN - AGENT OF CHANGE"

Workshop Pembicara Kharismatik - Charismatic Speaking
"PEMBICARA KHARISMATIK - CHARISMATIC SPEAKING"

Seminar Pelayanan Prima - Service Excellence
"SERVICE EXCELLENCE - PELAYANAN PRIMA"

Pelatihan Komunikasi Efektif - Effective Communication
"KOMUNIKASI EFEKTIF - EFFECTIVE COMMUNICATION"

Workshop Public Speaking - Pembicara Publik
"PUBLIC SPEAKING - PEMBICARA PUBLIK"

Seminar Peningkatan Produktivitas Kerja
"4 PRODUCTIVITY BOOSTERS SYSTEM"

Selasa, Februari 24, 2015

Mutiara Sabar dan Syukur


Rahasia Sabar dan Syukur

Oleh:
Ikhwan Sopa
http://qacomm.com/sabar-syukur.html

Vibrasi sabar - syukur. Rahasia sabar - syukur. Hakikat sabar - syukur. Kekuatan sabar - syukur. Manfaat sabar - syukur. Hikmah sabar - syukur. Keutamaan sabar - syukur. Terapi sabar - syukur.


"Hakikatnya, BERSABAR dan BERSYUKUR itu demi menciptakan bekal bukan demi menciptakan warisan."

"IKHLAS itu dari kita semata-mata untuk Allah SWT, RIDHO itu dari Allah SWT semata-mata untuk kita. IKHLAS itu memerdekakan diri dari menyekutukan-Nya, RIDHO itu membebaskan diri dari bertanya 'why me?'."

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya dan kebaikan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila ia mendapat kesenangan ia BERSYUKUR dan itulah yang terbaik untuknya. Dan apabila mendapat musibah ia BERSABAR dan itulah yang terbaik untuknya." - HR Muslim

"SABAR itu reaksi pertama dan otomatis atas musibah dan ujian. SYUKUR itu dimulai dari yang kecil, sebab tak akan bisa mensyukuri yang besar jika tidak bisa mensyukuri yang kecil. SABAR itu syaratnya IKHLAS dan SYUKUR itu syaratnya RIDHO. Tak ada SABAR kecuali dengan meyakini bahwa setiap musibah dan ujian hanya terjadi atas izin Allah SWT. Tak ada SYUKUR kecuali dengan ridho atas nikmat yang sedikit."

"SABAR itu syaratnya IKHLAS dan SYUKUR itu syaratnya RIDHO. Belum ikhlas jika masih bertanya-tanya, belum ridho jika masih mempertanyakan."

"Belumlah SABAR hati yang masih bertanya-tanya, belumlah SYUKUR mulut yang masih mengeluh."

"Bukan SABAR jika cuma di hati, bukan SYUKUR jika cuma di mulut."

"SABAR dan SYUKUR itu harus menyatu. Sabar itu jatahnya tubuh fisik, syukur itu jatahnya penglihatan, pendengaran dan hati. Keduanya adalah tujuan dari penciptaan dan maksud dari keberadaan. Sabar itu tetap bergerak, syukur itu meluangkan jeda untuk mengingat. Sabar itu sulit dan syukur itu paling sulit."

"Jika memang mencintai pastilah memaksimalkan usaha. Bersyukur itu cuma sekedar sementok-mentoknya respon yang bisa kita berikan, sebab kita sungguh tak mungkin membalas sedikitpun rahmat dan karunia-Nya. BERSYUKUR itu tentang tahu diri."

"Jika memang kebebasan murni itu tak pernah ada selama 'ingin' dan 'harus' masih hidup bersama kita, maka untuk meraih merdeka yang indah dan berbahagia sudah sepantasnya kita memenjarakan diri kita ke dalam tembok SABAR dan jeruji SYUKUR."

"SABAR dan SYUKUR itu intinya produktivitas. Dengan bersabar kita menjadi lebih efisien dan kreatif, karena sabar itu memunculkan lebih banyak pilihan dan alternatif. Dengan bersyukur kita menjadi lebih efektif dan progresif, karena syukur itu memastikan pertambahan dan kemajuan."

"SABAR dan SYUKUR itu wajib, bukan pilihan."

"Semoga kita tidak termasuk yang pandai berterimakasih kepada perantara tapi tidak pandai BERSYUKUR kepada sumbernya. Aamiin..."

"SABAR itu berbuah ilmu SYUKUR itu berbuah nikmat. Mau memetik pelajaran harus bersabar, mau memanen nikmat harus bersyukur. Inilah benih unggulan... yuk mari kita tanam."

"Jika SABAR itu rem maka SYUKUR itu gas."

"Versi pendek ucapan SABAR adalah 'astaghfirullah' dan versi pendek ucapan SYUKUR adalah 'alhamdulillah'.

Sabar itu menyadari bahwa apapun yang tidak kita sukai hanya terjadi karena perilaku kita sendiri dan syukur itu menyadari bahwa segala kenikmatan yang kita terima hanya datang dari-Nya.

Mari kita aminkan kemanunggalan sabar dan syukur dalam doa berikut ini.

"Ya Allah, Engkaulah Tuhan, tiada Tuhan yang patut disembah selain Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku, dan aku adalah hamba-Mu, dan aku berjalan di atas janji-Mu, dan aku berjalan di atas janji-Mu semampuku, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang telah aku perbuat, AKU MENGAKUI NIKMAT-NIKMAT yang telah Engkau berikan kepadaku, dan AKU MENGAKUI DOSA-DOSAKU, maka ampunilah aku, karena sungguh tak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau."

Doa ini dikenal sebagai induknya istighfar yang menyiratkan kesatuan sabar dan syukur.

Maka,

Sedih, sakit hati, dan kecewa memang tak sepantasnya menjadikan kita ENGGAN DAN RAGU UNTUK BERSABAR, sebab dengan bersabar kita akan dimudahkan untuk bersyukur, dan bersyukur adalah peningkat kualitas hidup."


"SYUKUR itu tujuan, SABAR itu jalan.

Sabar dan syukur saling mengikat dan saling berpengaruh secara timbal balik. Di satu sisi hubungan keduanya adalah sebagaimana yang diungkap di atas dan di sisi lain adalah yang berikut ini.

Tujuan besar kita adalah ridho Allah SWT. Ridho Allah lebih bernilai dari surga (akhirat), sebab ridho Allah juga akan menciptakan surganya dunia. Kunci ridho Allah adalah rasa syukur dan kunci syukur adalah rasa ridho atas nikmat.

Bersyukur itu ibarat memberi tag atau me-mention Allah sebagai tanda terimakasih atas tercapainya tujuan-tujuan kecil menuju tujuan besar. Ini semua adalah tentang perjalanan. Mensyukuri nikmat yang tak terhingga di sepanjang perjalanan tak akan pernah tuntas sampai langkah dan nafas terhenti. Itu sebabnya demi stamina kita sendiri, kita diminta untuk bersabar. Sabar adalah selurus-lurusnya jalan dan jalan yang lurus adalah jalur terpendek yang menghubungkan dua titik.

Syukur itu prosesnya tiga tahap. Pertama, mengidentifikasi nikmat semampunya - karena nikmat yang kita terima tak terhitung jumlahnya. Kedua, merasa sangat beruntung dengan nikmat-nikmat itu di dalam kefakiran kita. Ketiga, mendeklarasikan rasa terimakasih kita kepada sumbernya.

Maka,

Dengan begitu beruntungnya kita, sekecil apapun nikmat yang kita terima tak sepantasnya menjadikan kita ENGGAN DAN RAGU UNTUK BERSYUKUR, sebab dengan bersyukur kita akan dimudahkan untuk bersabar, dan bersabar adalah pelurus jalan."


"Ya Allah, hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada-Mu-lah kami memohon pertolongan. Kita memohon ditunjuki jalan yang lurus dengan sabar dan kita meminta nikmat dengan syukur. Maka beginilah kita: Jika tak BERSABAR menjadi sesat, jika tak BERSYUKUR dimurkai."

"Balasan SABAR adalah relatif dan sesuai kehendak Tuhan. Itu sebabnya sabar tak ada batasnya kecuali sabar itu sendiri. Jika bersabar itu sulit, maka kita bersabar atas kesulitan itu dengan kembali belajar dan mencari tahu langkah-langkah yang lebih tepat dan lalu menindaklanjutinya. Best practice mana yang belum saya lakukan dan bagaimanakah saya telah salah jalan?

Balasan SYUKUR adalah pasti dan yang terbaik dari Tuhan. Itu sebabnya syukur hanya dibatasi oleh kelalaian kita sendiri. Jika bersyukur itu sulit, maka kita bersyukur atas kesadaran itu dengan kembali merenungkan (tuma'ninah atau jeda) dan mengidentifikasi nikmat-nikmat yang telah kita terima. Jika kesadaran adalah nikmat, lalu mensyukurinya adalah nikmat, lalu dengan keduanya kita menyadari berbagai nikmat yang lain, dan dengan mensyukuri semua itu nikmat kita akan ditambah, maka tidakkah saya telah menemukan best practice yang menjamin saya sampai ke tujuan?"


"Hawa nafsu itu jika terlalu dikekang bukanlah SABAR melainkan tidak bersyukur, dan jika terlalu diumbar bukanlah SYUKUR melainkan tidak bersabar. Tanpa manual resmi dari Yang Menitipkan-nya ke dalam jiwa kita, bagaimana bisa kita mampu mengelolanya?"

"SABAR itu sumber keberlimpahan, SYUKUR itu pelipat-gandanya."

"SABAR itu tidak merasa dirugikan, SYUKUR itu merasa sangat diuntungkan."

"Dengan SABAR kita dicukupkan, dengan SYUKUR kita dikayakan."

"SABAR itu skillnya khalifah, SYUKUR itu skillnya abdullah. Sabar itu leadership, syukur itu followership. Membumikannya di kantor tidaklah mudah. Jadi atasan mesti sering-sering bersabar, jadi bawahan harus pandai berterimakasih."

"Jika merasa khalifah, berilah maaf dan BERSABAR. Jika merasa abdullah, mintalah ampun dan BERSYUKUR."

"Jika merasa kuat, berilah maaf dan BERSABARLAH. Jika merasa lemah, mintalah ampun dan BERSYUKURLAH."

"Memaafkan orang lain itu tanda BERSABAR, sebab memaafkan orang lain adalah salah satu cahaya menuju ampunan Tuhan. Memaafkan diri sendiri itu tanda BERSYUKUR, sebab meridhoi diri sendiri adalah salah satu jalan menuju ridho-Nya."

"SABAR itu pemudah, SYUKUR itu penambah."

"Biasa SABAR gak panikan, biasa SYUKUR gak bosenan."

"Pemalas itu masih punya kemampuan tapi tak digunakan - itu namanya tidak BERSYUKUR. Yang mudah menyerah itu masih punya kesempatan tapi memilih berhenti - itu namanya kurang BERSABAR. Syukur itu merajinkan, sabar itu menggigihkan."

"Jika BERSYUKUR dibalas dengan yang terbaik, maka mestinya kita melakukan yang terbaik. Jika BERSABAR dibalas dengan yang tak terduga, maka mestinya kita mencoba sebanyak mungkin cara."

"Hidup itu terjadi sekarang, bukan kemarin, belum tentu besok. Semoga kita sedang MENIKMATI hidup saat ini dan MENSYUKURINYA dengan melakukan yang TERBAIK di dalam KESABARAN."

"Jika saat ini tak satupun manusia tahu apa itu kebenaran, maka ketahuilah kebenaran dari cerminan dan pantulannya. Bayangan kebenaran adalah keyakinan, yang separuhnya adalah SABAR dan separuhnya lagi adalah SYUKUR. Cermin pemantul itu, adanya di dalam dada sini dan biasanya di sebelah kiri."

"SABAR itu membuka pintu yang masih tertutup supaya solusi bisa keluar. SYUKUR itu menutup pintu yang masih terbuka supaya nikmat tidak menguap."

"Sadarilah akibat dari SABAR dan SYUKUR, supaya kita sadar untuk menjadikannya sebab."

"Senang dan susah itu PERASAAN yang dipergilirkan Tuhan. Bersyukur itu menyadari bahwa segala sesuatu sudah pada tempatnya, bersabar itu menyadari bahwa tak ada yang sia-sia. BERSYUKUR dan BERSABAR adalah latihan KESADARAN bagi yang menggunakan PIKIRAN."

"BERSYUKURLAH untuk yang sudah datang dan BERSABARLAH untuk yang masih dalam perjalanan."

"Hidup ini indah, saat kita menyadari bahwa separuh keindahan hidup adalah SYUKUR dan separuhnya lagi adalah SABAR."

"SABAR itu sebelum, saat, dan sesudah. Berniat lurus dan punya tujuan yang jelas, bersungguh-sungguh dalam menuntaskan pekerjaan, kemudian tidak menyombongkan hasilnya. SYUKUR itu sesudah, saat, dan sebelum. Berterimakasih kepada yang memberi, menikmati hasil dengan rasa beruntung, kemudian berbagi dengan sesama manusia."

"Saat dianugerahi dengan kelebihan, pelit itu tidak BERSYUKUR dan boros itu tidak BERSABAR. Saat diuji dengan kekurangan, pelit itu tidak BERSABAR dan boros itu tidak BERSYUKUR. Ukurannya di tengah, menahan dengan tidak bermegah-megah dan mengeluarkan dengan tidak berfoya-foya. Patokannya bukan selera, tapi petunjuk."

"SABAR adalah cahaya karena ujian itu gelap, SYUKUR adalah peneduh karena nikmat itu menyilaukan."

"SABAR itu supaya tidak sedih karena ingat diri, SYUKUR itu supaya tidak terlalu senang hingga lupa diri."

"Wahai diri! BERSABARLAH, yang kau alami ini adalah bagian dari rencana Tuhan. BERSYUKURLAH, dengan itu Dia meridhoi rencanamu."

"BERSYUKUR untuk yang sudah hadir, BERSABAR untuk yang belum lahir."

"SABAR itu tidak mengabaikan yang di bumi, SYUKUR itu tidak mengabaikan Yang Di Atasnya Langit."

"Yang SABAR ya? Jika engkau sedang diuji dengan kesedihan maka dia sedang diuji dengan kesenangan. BERSYUKURLAH, sebab engkau akan mendapatkan pelajaran dan dia akan diberi pelajaran."

"Hukum sebab - akibat itu bersyarat. SABAR itu membuahkan hasil dengan syarat ikut mengizinkan apa yang telah diizinkan Tuhan. SYUKUR itu membuahkan hasil dengan syarat tetap berterimakasih sekalipun baru diberi sedikit."

"Orang yang BERSABAR mau bekerjasama, orang yang BERSYUKUR bersedia berbagi."

"Jika merasa kehilangan KESABARAN itu buruk akibatnya, maka sadarilah betapa buruknya kehilangan rasa SYUKUR."

"BERSABAR itu sulit, jika kita tidak menyadari Siapa sebenarnya yang membolehkan semua itu terjadi. BERSYUKUR itu sulit, jika kita tidak menyadari kepada Siapa sebenarnya kita harus berterimakasih."

"Peluang BERSABAR disalahgunakan dengan korupsi, kesempatan BERSYUKUR diselewengkan dengan menyuap."

"Senang dan susah itu ditayangkan berganti-ganti. Ada yang episode, ada yang mini seri, ada yang serial. Ada yang drama, ada yang action, ada yang humor. Ada juga yang iklan dan ada juga yang berita.

Setiap tayangan selalu ada akhirnya karena ia memang diciptakan untuk sementara. Sesegara kita menerimanya sesegera itu pula ia berlalu.

SABAR dan SYUKUR itu rasa di atas rasa. Untuk rasa susah kita menimpalinya dengan rasa sabar dan untuk rasa senang kita menimpalinya dengan rasa syukur.

Menyegerakan rasa sabar di atas rasa susah akan menyegerakan berlalunya tayangan buruk untuk digantikan dengan tayangan yang LEBIH baik.

Menyegerakan rasa syukur di atas rasa senang akan menyegerakan berlanjutnya tayangan baik dengan sekuel tayangan yang MAKIN baik.

Terimalah segera sebab terus menolak adalah melepaskan peluang untuk mengalami hidup. Nanti, kita akan menyebutnya sebagai pengalaman.

Segerakanlah sabar dan syukur. Badai pasti berlalu dan pelangi pun demikian juga."


"Akibat BERSABAR atau tidak bersabar itu tak terduga, akibat BERSYUKUR atau tidak bersyukur itu berlipatganda."

"SABAR itu seni menghadapi penundaan, SYUKUR itu seni memaksimalkan hasil."

"Kenyataan hidup ini relatif, sebab hidup ini tidak dibangun hanya oleh realitas fisik tapi juga dengan realitas kuantum. Awan mendung yang sama bagi penjual capcin bisa berarti musibah dan bagi pengojek payung mungkin berarti anugerah. Bagaimana Tuhan mengizinkan kita menciptakan realitas hidup kita sendiri adalah sejauh kualitas getaran yang kita pancarkan kembali kepada-Nya. SABAR dan SYUKUR adalah sebaik-baiknya prasangka."

"Bersyukur saat diberi kesabaran, bersabar dalam menempuh jalan untuk bersyukur. Berusaha tanpa sabar itu sembrono, berhasil tanpa syukur itu lalai. Bekerja itu alasan untuk BERSABAR, sukses itu cuma alasan supaya bisa BERSYUKUR."

"SYUKUR itu tentang tahu diri, SABAR itu tentang mengerti dunia, keduanya adalah tentang mengenal Tuhan."

"Salah berinvestasi bisa merugi, salah berbisnis bisa bangkrut. Hidup ini ibarat perniagaan, SABAR itu investasi keikhlasan untuk menghasilkan active income yang naik turun tak terduga, SYUKUR itu bisnis keridhoan untuk menghasilkan passive income yang pasti dan predictable."

"Orang yang tidak BERSABAR sumber tindakannya adalah ketakutan, orang yang tidak BERSYUKUR pencapaiannya adalah sumber ketakutan. Siapa yang bersabar akan diberanikan, siapa yang bersyukur akan disegani."

"Orang yang BERSABAR mau melakukan apa yang semestinya dilakukan; ia menanam benih keberanian. Orang yang BERSYUKUR mau meneruskan apa yang semestinya tidak ditahan; ia menanam benih kehormatan."

"BERSABAR agar tidak blunder, BERSYUKUR agar tidak keblinger."

"Menjadi pribadi BERSYUKUR yang jiwanya tenang, rela, dan penuh cinta itu pernyataan visi. Terus berlatih mengendalikan jiwa yang marah, labil, dan tidak peduli dengan KESABARAN itu pernyataan misi. "

"SABAR itu latihan presisi, SYUKUR itu latihan akurasi."

"SYUKUR itu motivasi, SABAR itu pemberdayaan diri."

"Kebalikan SABAR adalah berkeluh-kesah, kebalikan SYUKUR adalah mengingkari sumber nikmat."

"BERSABAR itu mengingkari mentalitas korban, BERSYUKUR itu mengakui nikmat, kebalikannya adalah mengakui mentalitas korban dan mengingkari nikmat."

"Prepare for the worst, hope for the best. SABAR itu ada di hantaman yang pertama, itu sebabnya memperhitungkan yang terburuk adalah cerminan rasa sabar. SYUKUR itu ada di hati yang tidak lalai, itu sebabnya mengharapkan yang terbaik adalah pancaran rasa syukur."

"Salah satu tanda BERSABAR adalah memperhitungkan yang terburuk, dan kita tidak bisa memperhitungkan yang terburuk jika kita tidak menerima kemungkinan yang terburuk. Salah satu tanda BERSYUKUR adalah mengharapkan yang terbaik, dan kita tidak bisa mengharapkan yang terbaik jika kita tidak melakukan yang terbaik."

"Yang tidak punya SABAR itu malaikat, yang tidak punya SYUKUR itu setan."

"BERSABAR itu membesarkan hati, BERSYUKUR itu merendahkannya."

"Cara BERSABAR yang baik adalah tidak mengeluh kepada manusia dan mengadu hanya kepada Tuhan. Cara BERSYUKUR yang baik adalah menceritakan nikmat Tuhan dan tidak membanggakannya kepada manusia."

"Manusia adalah makhluk keluh kesah yang mudah terperdaya. SABAR yang baik itu lebih banyak mengadu kepada Tuhan daripada mengeluh kepada manusia. SYUKUR yang baik itu lebih banyak memuji Tuhan daripada bercerita kepada manusia dengan rasa bangga."

"SABAR itu pembesar tindakan, SYUKUR itu penjaga cita-cita. Ingin bertindak besar harus bersabar, bercita-cita tinggi harus banyak bersyukur."

"Terburu-buru itu artinya kurang SABAR, menunda-nunda itu artinya kurang SYUKUR."

"Berhasil itu mendapatkan yang kita inginkan, berbahagia itu menginginkan yang kita dapatkan. SABAR itu supaya berhasil, SYUKUR itu supaya berbahagia."

"SABAR itu menjadikan kita mampu bertahan hidup. SYUKUR itu menjadikan kita hidup sepenuhnya."

"Cerminan SYUKUR adalah menikmati apa yang ada. Jika apa yang ada tak lagi bisa dinikmati, itu adalah tanda untuk mengaktivasi mode SABAR dengan tiga pilihan - tetap bergerak sesuai rencana, menggeser fokus ke cara pandang yang memberdayakan, atau menetapkan target dan tujuan yang baru."

"SABAR itu menciptakan jarak antara kita dan kesusahan, SYUKUR itu menciptakan jarak antara kita dan kesenangan. Jauhnya jarak itu disebut kedewasaan dan sejauh-jauhnya jarak itu adalah pencerahan."

"Penyulit rasa SYUKUR adalah kegagalan memuji Tuhan ketika Ia menganugerahkan kebaikan kepada seseorang yang bukan kita -- padahal segala puji untuk setiap kebaikan hanyalah bagi-Nya. Penyulit rasa SABAR adalah kegagalan memohon ampunan-Nya ketika mengalami keburukan karena menganggap penyebabnya adalah murni kesalahan orang lain -- padahal setiap keburukan bersumber dari kesalahan diri sendiri."

"Lebih dari sekadar merasa senang karena sedang mendapatkan kebaikan, BERSYUKUR adalah belajar mengenali Dia yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Lebih dari sekadar merasa sedih karena sedang mengalami musibah, BERSABAR adalah belajar mengenali Dia yang Maha Agung dan Maha Bijaksana."

"Siapa yang BERSABAR akan ditutupi kekurangannya, siapa yang BERSYUKUR akan diberi kelebihan."

"BERSABAR dan BERSYUKURLAH sesiapa yang mau merenungkan poin berikut ini: Siapa yang pernah kecewa kepada Tuhan hendaknya membenahi yang di dalam daripada mengeluarkan suara tapi menyesatkan, sebab makhluk yang kecewa kepada Tuhan dan lalu menyesatkan pihak lain namanya setan."

"Dengan BERSABAR kita makin pandai memilih dan memutuskan apa-apa yang akan kita datangkan. Dengan BERSYUKUR kita makin pandai menciptakan peluang dan kesempatan dari apa -apa yang sudah ada. Dengan keduanya kita menjadikan masa lalu sebagai investasi."

"Manusia adalah makhluk yang dianugerahi kebebasan untuk berkehendak tapi demi kebaikannya sendiri agar tidak menjadi zalim ia juga dititipi amanah berupa tanggungjawab untuk terus belajar mengelola pikiran dan perasaannya. Saat ia merasa senang karena sesuatu sedang berlangsung sesuai dengan kehendaknya, pikirannya mengerti bahwa di atas rasa itu ada amanah untuk BERSYUKUR. Ketika ia merasa susah karena yang dikehendakinya tidak atau belum terjadi, pikirannya mengerti bahwa di atas rasa itu ada amanah untuk BERSABAR."

"BERSABAR itu mengawali hal baik dengan menyebut nama Allah SWT dalam keyakinan bahwa Ia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan BERSYUKUR itu mengakhirinya dengan memuji Allah SWT yang Maha Besar."

"Gagal BERSABAR dan gagal BERSYUKUR adalah gagal merdeka."

"Manusia adalah makhluk yang dibebaskan berkehendak. Ia menemukan bahwa segala hasrat tak bisa selalu terpuaskan sesuai kehendaknya. Ia mulai terbiasa marah, sedih, takut dan kecewa. Ia sering menyalahkan siapapun diiringi penyesalan karena ia tahu tak ada yang lebih patut dicela kecuali dirinya sendiri. Dengan SABAR dan SYUKUR ia belajar memvibrasikan jiwa yang tenang. Dengan melatih keduanya ia semakin ikhlas dan ridho dalam penghambaannya kepada Tuhan. Setelah itu, ia bisa berharap menjadi jiwa yang diridhoi oleh-Nya. Itulah puncak KEMERDEKAAN."

"Kejadian dan keadaan (fakta) adalah bahan mentah bagi pengamatan dan realitas adalah hasil pengamatannya. SABAR adalah cara terbaik mengamati dunia dan SYUKUR adalah cara terbaik mengamati diri."

"SABAR adalah kekuatan dan SYUKUR menjadikannya kekuatan yang baik."

"Siapa yang memiliki rasa humor tentang kehidupan dan dunia biasanya lebih mudah BERSABAR dan BERSYUKUR."

"SABAR itu batas bawah, karena kita bisa menghitung-hitung pilihan kita. SYUKUR itu batas atas karena kita tidak bisa menghitung-hitung nikmat Allah SWT. Di luar batas, ada hewan dan malaikat."

"SABAR itu supaya selamat, SYUKUR itu supaya sampai."

"Jika engkau tetap BERSABAR maka upayamu akan membuahkan hasil, tapi jika engkau tak pandai BERSYUKUR maka yang panen biasanya orang lain. Kedengarannya tidak asing bukan?"

"Jika aku mengalami yang tidak ingin aku alami dan aku kecewa, maka itu adalah tanda bahwa aku kurang BERSABAR. Jika aku belum mendapatkan yang ingin aku dapatkan dan aku kecewa, maka itu tanda bahwa aku kurang BERSYUKUR."

"SABAR itu harus sangat dan SYUKUR itu harus banyak. Sabar adalah kualitas kesetiaan kita terhadap harapan sekalipun kecil adanya, dan syukur adalah kuantitas pengakuan kita akan kebaikan Tuhan sekalipun tidak mungkin bisa menghitung nikmat-Nya. Sabar itu tetap setia, syukur itu tidak mengingkari."

"BERSABAR memberimu rasa damai dan BERSYUKUR menjadikan hidupmu terasa indah."
"BERSYUKUR itu ilmiah dan terbukti menambah nikmat. Link: Riset Ilmiah Tentang Rasa Syukur."
"Sesungguhnya KESABARAN adalah pada hantaman pertama (HR. Bukhari Muslim). Berpikir positif perlu dilatih dan dibiasakan, supaya menjadi reaksi otomatis, auto pilot dan refleks saat hantaman pertama. Dimulai dengan pemahaman. Link: Berpikir Positif."
"KESABARAN memang harus dilatih sebab sabar adalah peak performance yang skor-nya valid dan diakui hanya jika didemonstrasikan saat hantaman pertama.

Ketika berbagai hal berjalan tak sesuai rencana atau tak sesuai keinginan kita, kegalauan yang muncul biasanya diwarnai dengan tanda tanya seperti ini, 'Bagaimana ini, jangan-jangan aku telah salah dalam bersikap, memilih keputusan, atau mengambil tindakan?'

Jika kita tetap yakin bahwa sikap, keputusan, dan tindakan kita sudah benar dan tepat, maka kita bisa melatih kesabaran dengan menggaungkan yang berikut ini sebagai background voice di kepala dan di dada kita, 'Allah-lah yang Maha Mengatur, Maha Mengurus, Maha Memelihara... Allah-lah yang Maha Mengatur, Maha Mengurus, Maha Memelihara... Allah-lah yang Maha Mengatur, Maha Mengurus, Maha Memelihara...'

Jika kita tak lagi yakin bahwa sikap, keputusan, dan tindakan kita masih benar dan tepat, maka kita perlu beristighfar dan bersedia bersabar untuk jujur kepada diri sendiri dengan menerima kesalahan dan kekalahan - yang biasanya hanya sementara dan insya Allah ada hikmahnya.

Move, on."

"Siapa yang merasa berhak berkata apapun dan berbuat apapun, termasuk yang buruk-buruk, biasanya sedang marah, sedang menurun tawakkalnya, dan bisa diyakini sedang kurang SABAR dan SYUKUR-nya."
"Untuk SABAR itu 'tidak', untuk SYUKUR itu 'kurang'. Yang satu 'digital', yang satu 'analog'. Yang satu 'to be or not to be', yang satu 'less or more'. Yang satu 'kutub ekstrem', yang satu 'inkremental'. Yang satu 'on atau off', yang satu 'fine tune'. Yang satu 'kalo iya iya kalo nggak nggak', yang satu 'mosok segitu doang sih?'. Dua...duanya berat eeeuuy...!"
"Setiap kita punya persoalan masing-masing, dengan keluhan masing-masing, dan dengan penderitaan masing-masing, berupaya semampunya untuk mencapai hasil dan bahagia menurut versi masing-masing. SABAR dan SYUKUR itu kompetisi internal. Maka, sedikitkanlah memakai ukuran-ukuran luar, sebab sebaik-baiknya pakaian adalah takwa. Musuh terbesar adalah diri sendiri. Menang atau kalah, siapa yang merasakan?"
"Aq ini gimana ya..? Klo memang yakin Allah SWT itu Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemberi Rizki, Maha Pengampun, Maha Menerima Taubat, Maha Memelihara, Maha Mengatur, Maha Memberi Petunjuk dan Jalan, Maha Adil, Maha Bijaksana... koq bisa ya, aq gag bahagia? Dasar kurang BERSYUKUR!"
"Da orang susah... trus gw bilang... 'SYUKURIN...!' Koq bisa ya, susahnya orang berubah menjadi nikmatnya gw? Mending, gw bilang aja ke dia... 'SABARIN...!'"
"Suatu hari nanti setelah aku mati, aku harus menghadiri sebuah persidangan.

Hakimnya jelas. Jaksa penuntutnya jelas. Vonisnya pasti. Nanti, aku didampingi pengacara pembela yang handal dan saksi-saksi yang obyektif dan terpercaya.

Akal-akalan dan manipulasi hukum tak berlaku lagi di sana, sehingga pengacara dan saksi-saksiku membutuhkan bukti-bukti yang valid.

Aku harus membentuk tim pengumpul fakta yang akan mengolahnya menjadi bukti-bukti persidangan. Anggota tim itu cukup dua saja, tuan SABAR dan mbah SYUKUR. Job desc mereka bisa kutanyakan kepada kyai, ustadz, dan ulama yang lurus.

Mereka berdua siap bekerja keras dan hanya butuh dibayar dengan kesetiaanku pada kontrak seumur hidup."

"'Aku mau menanak nasi'. Tujuannya memang nasi tapi yang ditanak pastilah beras. 'Aku mau memasak sayur'. Tujuannya sayur tapi yang diracik adalah bahan-bahan dan bumbu dapur. 'Aku mau berhasil'. Berhasil itu tujuannya, BERSABARLAH dalam mengelola dan memanfaatkan segala bahan bakunya dan BERSYUKURLAH bahwa semua itu telah tersedia."
"Rejeki tak akan kemana, kitalah yang harus kemana-mana. BERSABAR mau kemana-mana, BERSYUKUR bisa kemana-mana."
"Kerja keras itu penting tapi jangan sampai salah kaprah. Sejauh ini, saya belum menemukan dalil yang mengidentikkan kerja keras dengan rejeki. Setahu saya, silaturahim-lah yang identik dengan rejeki. Dua state penting dalam membangun silaturahim adalah SABAR yaitu berlapang dada, memaklumi, memberi maaf, dan memudahkan kerjasama dengan atau terhadap orang lain, dan SYUKUR yaitu pandai berterima kasih dalam berbagai cara, ungkapan, dan bentuk yang baik-baik."
"Kalian akan menjumpai sepeninggalku para pemimpin yang mementingkan diri (kelompoknya). BERSABARLAH, hingga kalian menjumpai aku di telaga (Kautsar)."
(HR Bukhari:3508 - Muslim:3432)"

"SABAR yang indah itu sulit. Sulit tapi indah: 'Aku BERSYUKUR bahwa hari ini yang kurasakan lebih buruk dan lebih tidak nyaman dibanding hari-hari kemarin sebenarnya adalah pergeseran sementara yang diizinkan Tuhan dalam rangka mengabulkan doa-doa yang aku panjatkan.'"
"Kecerdasan tertinggi adalah Kecerdasan Waktu, bukan IQ bukan EQ tapi TQ, sebab yang paling cerdas adalah yang paling mengingat mati (baca: deadline) dan lalu menyiapkan diri untuknya.

Ciri utamanya adalah selalu tepat waktu, punya target dan rencana, serta mengikuti pedoman waktu untuk memulai, mengerjakan dan menyelesaikan segala urusan baik dunia maupun akhirat.

Keterampilan utamanya adalah selalu bertanya dan sekaligus menjawab, 'Apa yang terbaik untuk saat ini?'

Suatu hari, Rasulullah SAW yang baru kembali dari berpergian bertanya kepada istrinya, 'Adakah yang bisa aku makan?' Istrinya menjawab, 'Tidak ada.' Rasulullah SAW lalu berkata, 'Kalau begitu, aku berpuasa.' Cerdas waktu, dengan kualitas pilihan yang melejit naik. Bagi beliau, berpuasa adalah lebih baik dan yang terbaik untuk saat itu.

Jika saya mengajukan pertanyaan yang sama kepada istri saya, lalu dijawab 'tidak ada', maka saya akan mengajukan pertanyaan lebih jauh, 'kalo buah ada nggak?' Jika dijawab 'tidak ada' juga, maka saya masih mungkin akan bertanya, 'kalo krupuk atau camilan ada?

Jika saya meneruskan upaya saya, maka saya akan berakhir di sini, 'Ya sudah, air putih saja.' Kualitas yang menurun dibanding harapan saya yang pertama. Tidak cerdas waktu, buang-buang waktu.

Kebiasaan BERSABAR dan BERSYUKUR itu melatih, meningkatkan dan mempertajam Kecerdasan Waktu, sebab sabar adalah jernihnya kita tentang segala sesuatu yang sedang kita 'nantikan' dan syukur adalah jernihnya kita tentang segala sesuatu yang sudah ada saat ini'."

"Menunggu yang disukai namanya optimis, menunggu yang tidak disukai namanya pesimis, tidak menunggu apa-apa namanya putus asa. Optimis itu BERSABAR dan BERSYUKUR pada saat yang sama."
"Yang namanya program diulang-ulang, yang namanya proyek sekali doang. Kejadian dan keadaan diulang-ulang dan hidup di bumi hanya satu kali. Jangan bosan memprogram SABAR dan SYUKUR ke dalam diri supaya proyek untung abadi. Selagi bisa. Selagi bisa. Selagi bisa."
"Siapa yang mengejar bayang-bayang tak akan pernah bisa memeluknya, siapa yang bergerak menuju cahaya bayang-bayang mengikutinya. Siapa yang berdiri terlalu tinggi lebih dekat ke matahari, siapa yang mau merendah lebih mudah berteduh. SABAR adalah cahaya bagi ujian yang terasa gelap dan SYUKUR adalah peneduh bagi nikmat yang sering menyilaukan."
"SABAR itu rem, SYUKUR itu gas. Ngerem itu supaya mutusin jadi lebih mudah, ngegas itu supaya sampenya lebih jauh."
"Jika saja SABAR-ku seluas bumi Allah, maka SYUKUR-ku yang selalu hanya sedikit insya Allah mampu melapangkan duniaku."
"SABAR menjadikan berani, SYUKUR menjadikan tahu diri. Bersabar itu bersedia menjalani dengan segenap jiwa dan raga, bersyukur itu menjalaninya dengan mengoptimalkan potensi yang ada. Berani yang tahu diri sama dengan puncak kinerja."
"Tanda SABAR adalah ikhlas, tanda ikhlas adalah mengizinkan apa yang telah diizinkan Tuhan, dan tanda mengizinkan adalah segera move on dengan melakukan yang terbaik. Tanda SYUKUR adalah ridha, tanda ridha adalah tidak meremehkan pemberian Tuhan, dan tanda tidak meremehkan adalah segera menikmati dengan menggulirkan manfaatnya. Sabar itu tidak merasa dirugikan, syukur itu merasa sangat diuntungkan."
"SABAR itu berhenti menyalahkan orang dan mulai membenahi diri, SYUKUR itu berhenti mengasihani diri dan mulai mengasihani orang."
"'Kemanapun aku pergi selalu ada yang bisa aku SYUKURI.' Katakan, dan lihat apa yang terjadi."
"Saat gelap lampu sorot kita hanya mampu menerangi enam puluh meter ke depan dan di kala terang mata kita tak bisa menembus cakrawala. Terus melangkah akan memperjelas semuanya dan tak ada perbuatan baik yang sia-sia. Tetap melakukan sekalipun belum terlihat berhubungan."
"BERSABARLAH dalam mengejar dan BERSYUKURLAH karena kebaikan tak hanya melekat pada yang dikejar."
"Termasuk BERSABAR itu menyedikitkan kas bon, termasuk BERSYUKUR itu menyegerakan bayar utang - ;)."
"BERSABAR itu seni menunda gratifikasi, BERSYUKUR itu seni menyegerakan gratitude."
"Kesempurnaan itu punya kelemahan yang mendasar, yaitu ketidakmungkinannya untuk dicapai. Untuk itu SABAR ini ada."
"Dan di antara ketidaksempurnaan kita adalah ketidakmampuan menghitung nikmat Tuhan, maka sebaik-baik perhitungan adalah BERSYUKUR."
"SABAR dan SYUKUR itu induk segala terapi, pencegah konslet atau kepleset. Gagal sabar dan gagal syukur sungguh tinggi biayanya."
"Tidak akan ada perubahan jika tidak diawali dengan SABAR dan SYUKUR."
"Begitu pula, tidak akan ada ujung yang baik jika tidak diakhiri dengan SABAR dan SYUKUR."
"Cara paling cepat untuk mengubah keadaan adalah dengan bertobat, yaitu berhenti dari apa-apa yang menciptakan keadaan yang ingin diubah. Di situ, SABAR dan SYUKUR benar-benar diperlukan."
"Teknik Problem Solving apapun akan bekerja hanya jika dijalani dengan SABAR. Link: Sabar Mengelola Masalah
."

"MENSYUKURI pekerjaan dan profesi. Link: Ceria di Tempat Kerja."

"BERSABAR menghadapi diri sendiri. Link: Menjinakkan Perasaan Tidak Nyaman."

"BERSABAR menghadapi yang 'kecil'. Link: Hal Kecil Bisa Berbahaya untuk Anda."

"SABAR dan SYUKUR itu puncaknya kesadaran. Bersabar sebagai makhluk kecil, bersyukur sebagai makhluk yang telah dimuliakan. Link: Where Is The Fifth Awareness."

"SABAR adalah mencegah diri dari sesuatu yang nantinya disesali. Link: Berpikir Sebelum Bertindak."

"SABAR itu tidak ada batasnya. Link: Jangan Menyerah."

"Jika BERSYUKUR maka nikmat ditambah. Link: Ini Penjelasan Logisnya."

"Kita BERSABAR karena kita ini kecil, kita BERSYUKUR karena telah dimuliakan. Jika terasa ada yang janggal dengan kalimat itu, biasanya karena lupa melibatkan Tuhan. Sabar dan syukur itu tentang ber-Tuhan bukan tentang spiritualisme bukan cuma tentang perasaan. Keduanya tidak dicantumkan dalam bab akhlak tapi dalam bab tauhid dan akidah. Tak ada sabar dan syukur kecuali tentang positioning kita di hadapan-Nya."

"Dengan SABAR susah berkurang, dengan SYUKUR nikmat ditambah. Matematika yang sangat sederhana tapi sungguh besar tantangannya. Cenderung mudah bagi yang mengejar rasa, cenderung sulit bagi yang mengejar benda."

"SABAR itu di hantaman pertama, orang sabar tidak menunda-nunda. SYUKUR itu menambah nikmat, orang bersyukur menyegerakan."

"Bukti SABAR adalah menerima, bukti SYUKUR adalah _______."

"Karena BERSYUKUR itu dibalas dengan yang terbaik, maka sepantasnyalah kita tetap melakukan yang terbaik. Karena BERSABAR itu balasannya tak terduga, maka sepantasnyalah kita tak putus asa mengupayakan sebanyak mungkin cara."

"Kita punya potensi, dengan belajar ubahlah itu menjadi kekuatan, lalu lepaskan energinya ke dalam tindakan, sebab tanpa yang terakhir ini kita cuma akan tahan banting tanpa menghasilkan. BERSABAR sekaligus BERSYUKUR."

"Apapun yang kita kerjakan saat ini adalah semata-mata demi kepentingan duniawi. Sampai, kita melibatkan SABAR dan SYUKUR ke dalamnya. Tanpa kedua hal itu kita tidak terhubung dengan Tuhan."

"Dengan SABAR susah berkurang, dengan SYUKUR nikmat ditambah. Kemudian, kita menjadikannya rumit dengan pembagian dan perkalian. Membandingkan diri dengan orang lain dan melupakan sabar - syukur sangatlah berbahaya. Jika pembilang menganggap penyebut itu besar, maka pembilang merasa dirinya terlalu kecil berkali lipat sehingga menjadi sulit bersabar. Jika pembilang menganggap penyebut itu kecil, maka pembilang jatuh ke dalam kesombongan berkali lipat dan menjadi tidak bersyukur. Sudah kubilang, sudah kusebut. Pembilang dan penyebut itu sama. Berlombalah hanya dalam kebaikan dan taqwa."

"Tuhan telah menentukan kadar-Nya begini. Ia membalas SABAR sesuai kehendak-Nya, itu sebabnya sabar kita harus tak ada batasnya, dan jika masih ada maka batas itu pasti lah ego kita sendiri. Ia membalas SYUKUR dengan yang terbaik, itu sebabnya syukur kita harus dibuktikan dengan melakukan yang terbaik, dan jika belum maka itu adalah bukti dari kelalaian kita sendiri. Bagi kita yang telah dianugerahi kadar 'cukup dan mampu', melakukan sekadarnya belumlah cukup dan seringkali belum semampunya."

"Terlalu cepat puas itu tanda kurang SABAR. Tak pernah puas itu namanya tidak BERSYUKUR."

"Semoga kita berhati-hati dengan kata-kata. Allah yang Maha Pemurah, yang telah mengajari kita tentang firman-Nya, menciptakan kita, mengajari kita pandai berbicara. Ia berkata, "Jadilah!" maka jadilah dunia dan seisinya dan segala yang Ia kehendaki. Kita ini wakil-Nya dan setiap wakil dititipi wewenang dan tanggungjawab. Perkataan kita menciptakan dunia kita sendiri. Nikmat-Nya yang manakah yang kita dustakan, sementara Ia dengan kemurahan-Nya mengikuti persangkaan, presuposisi dan kata-kata sunyi kita?"

"Jika mengharapkan kebaikan, BERSABARLAH. Jika mengharapkan keindahan, BERSYUKURLAH. Keduanya adalah kebenaran. Yakini ini atau galaulah."

"Jangan memaksa meminta bukti bahwa SABAR dan SYUKUR itu baik dan indah. Jika terbukti bersyukurlah dan jika belum terbukti bersabarlah. Yakini ini atau galaulah."

"Obat galau itu yakin, penawar kegalauan adalah keyakinan. Galau itu kebimbangan yang terus mempertanyakan bukti-bukti sementara yakin itu rasa percaya yang tidak mengharuskan bukti (dengan catatan belum pernah bertemu malaikat tapi percaya tentang keberadaannya). Penjaga keyakinan adalah SABAR dan SYUKUR."

"Hidup ini perjalanan sebab dan akibat. Sebab menciptakan akibat dan akibat itu menjadi sebab bagi akibat berikutnya. SABAR itu mengubah akibat yang buruk menjadi sebab yang baik dan SYUKUR itu menjaga akibat yang baik supaya menjadi sebab yang tetap baik."

"Ketika keduanya menyatu. Ummul mukminin 'Aisyah binti Abu Bakar radhiallahu 'anhaa menyaksikan Rasulullah SAW melakukan shalat malam hingga bengkak kakinya. Ia pun bertanya, 'Wahai Rasulullah, mengapakah engkau melakukan ini, sedangkan Allah SWT telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang?'. Beliau menjawab, 'Tidak bolehkah aku menjadi hamba Allah yang banyak bersyukur?'"

"Salah satu bukti SABAR adalah melakukan yang wajib. Salah satu bukti SYUKUR adalah melakukan yang sunnah."

"SABAR dan SYUKUR berperan penting dalam pengambilan keputusan. Sabar itu menyediakan waktu bagi datangnya mood terbaik dan kreatifitas puncak, syukur itu memastikan diambilnya keputusan yang adil dan tidak zalim kepada diri sendiri dan orang lain."

"SABAR dan SYUKUR itu hanya relevan bagi orang yang berkeyakinan. Baginya segala hal yang tidak diinginkannya diyakini sebagai cobaan dan ujian. Setiap cobaan adalah sementara dan setiap ujian adalah peluang untuk menjadi lebih baik. Baginya juga, segala hal yang bisa ia nikmati diyakini sebagai titipan dan amanah. Setiap titipan adalah sementara dan setiap amanah adalah peluang untuk memberdayakan potensi diri. Orang yang sabar hidupnya bersemangat dan penuh harapan. Orang yang bersyukur hidupnya merdeka dan berbahagia."

"SABAR itu bersedia bekerjasama, SYUKUR itu bersedia berbagi. Sabar adalah aura terpenting dalam bekerjasama karena kita menyadari setiap orang punya cara yang berbeda. Sabar itu menyelamatkan perbedaan. Syukur adalah aura terpenting ketika berbagi karena kita menyadari setiap orang punya keinginan yang sama. Syukur itu menjamin kebersamaan."

"Seperti tak ada yang lebih penting dari BERSABAR ketika mendapati kesusahan, tak ada juga yang lebih penting dari BERSYUKUR ketika menyadari kenikmatan."

"Ya susah, tapi ada yang lebih bermakna daripada itu, namanya BERSABAR. Ya senang, tapi ada yang lebih bernilai daripada itu, namanya BERSYUKUR. Go meta, stretch, expand, maka hidup ini luas. Seperti juga merenungkan keadaan sebelum lahir dan keadaan setelah mati, hidup ini lebih dari sekedar usia."

"Allah telah berfirman, beserta kesulitan ada kemudahan. Kemudahan menjadi ada hanya jika kesulitan diakui ada. SABAR itu jujur kepada diri sendiri mengakui dan menerima adanya kesulitan. Siapa yang jujur kepada diri sendiri dan menerima kesulitan dialah yang akan move on."

"Patience itu cerminan SABAR, passion itu cerminan SYUKUR."

"Hati, perkataan, dan perbuatan kita menjadikan siapa kita. Ini semua adalah the power of intention dan the power of attention: Ta’awwudz, basmalah, syahadatain, tasbih, tahmid, takbir, tahlil, istighfar, insya Allah, masya Allah, hauqolah, istirja', talbiyah, dan salam. Semua itu adalah kalimat yang baik bagi alam semesta dan seluruh manusia. Tak usah khawatir jadi arab, sebab memang tak mudah juga di-Indonesia-kan. Kosa kata bahasa daerah kita pun banyak yang sulit di-Indonesia-kan."

"SYUKUR itu berangkat tidur dengan merasa beruntung telah diberi kesempatan sehari lagi, SABAR itu bersedia mengembalikan nyawa malam ini dan berharap besok masih diberi kesempatan satu kali lagi. Introspeksi itu harap-harap cemas tentang keduanya."

"Kalo pahlawan jaman dulu mah itu loh, mereka yang dengan SABAR memperjuangkan kemerdekaan kita. Kalo pahlawan jaman sekarang sih kamu, yang MENSYUKURINYA dengan sibuk memperjuangkan kesejahteraan dan kemaslahatan bangsa."

"Termasuk kemampuan SABAR adalah jernih dalam membedakan doa, ikhtiar, kasab, dan tawakkal.

Doa itu meminta outcome (kualitas akhir) kepada Tuhan tanpa ikut campur tentang cara mencapainya.

Ikhtiar itu mengambil keputusan yang terbaik sesuai pertimbangan akal yang sehat.

Kasab itu take action dengan melakukan yang mampu kita lakukan dengan sebaik-baiknya.

Tawakkal itu mengembalikan segala kekuatan dan hasil akhir hanya kepada Tuhan (let it go, let it God) dan menerima takdir baik atau buruk.

Semua itu menyatu sebagai lingkaran yang penuh dan utuh.

Semoga kita tidak termasuk yang berdoa dengan ikut campur tentang cara mencapainya lewat segala bentuk protes, keluhan, amarah dan ketidakpuasan, padahal kita berdoa justru karena kita sadar bahwa kita tidak pernah tahu cara pastinya, sementara cara-cara yang mampu kita pilih dan lakukan belumlah kita pilih dan lakukan, kemudian kita gagal dalam menerima ketetapan-Nya, padahal ketetapan-Nya mustahil kita tolak.

Ikhtiar dan kasab kita memungkinkan kita mencapai tujuan, target, atau sasaran, tapi doa dan tawakkal kitalah yang memastikan tercapainya outcome."


"Termasuk BERSABAR dan BERSYUKUR itu terus melatih keterampilan Manajemen PIKIRAN dan PERASAAN, sebab Tuhan menganugerahi kita dua yang terakhir dalam rangka dua yang pertama.

Bekerja adalah mengisi waktu dengan lebih banyak berpikir dan lebih banyak bertindak.

Beristirahat adalah mengisi waktu dengan lebih banyak merasakan dan lebih sedikit bertindak.

Jangan bekerja dengan lebih banyak merasakan kecuali perasaan yang mendukung kejernihan pikiran, yaitu rasa senang dan rasa gembira.

Jangan beristirahat dengan lebih banyak berpikir kecuali pikiran yang mendukung kehalusan perasaan, yaitu merenungkan pelajaran kehidupan."


"Untuk apa lagi pikiran dan perasaan jika bukan untuk BERSABAR dan BERSYUKUR? Badan kita selalu siap menjadi sarananya selama sehat atau sedang sakit."

"SABAR itu supaya ia menjadi sifat, SYUKUR itu supaya ia menjadi keterampilan. Yang satu diharapkan menetap sebab hidup ini isinya tugas tetap, yang satu lagi diharapkan menjadi tamu tetap sebab tugas menghitung nikmat Tuhan tak akan pernah bisa tuntas."

"SABAR itu tidak berputus asa, yaitu tidak memutuskan hubungan dengan yang memberi asa. Dia bukan PHP melainkan MP yaitu Maha Pemurah, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang."

"Orang SABAR tidak berputus asa. Apa yang terputus, sebelumnya terhubung. Hubungan itu ada di antara dua pihak, yaitu pihak yang mengharapkan sesuatu dan pihak yang memberi sesuatu itu. Tidak ada yang pasti memberi kecuali yang Maha Memberi yang memiliki nama-nama yang baik dan indah. Orang sabar itu cerdas, ia merasa rugi jika putus hubungan dengan yang pasti memberi."

"Karena Anda mengasihi dan menyayangi anak-anak anda, hampir selalu anda memberi apa yang mereka minta. Ketika mereka meminta, anda memilih satu dari tiga cara. Pertama, anda memberi yang mereka minta. Kedua, anda memberi yang lebih baik dari yang mereka minta. Ketiga, anda memberi yang mereka minta tapi bukan sekarang waktunya. Orang SABAR itu seperti anda, yang meyakini bahwa Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang - Dia pasti memberi apa yang anda minta, dengan kasih sayang yang tak terhingga melebihi kasih sayang orang tua kepada anaknya, lewat tiga cara yang sama."

"SABAR itu berbuah ilmu, SYUKUR itu menyuburkan nikmat. Seerat itulah hubungan ilmu dan kenikmatan. Semua itu tak akan ada artinya kecuali setelah diuji di lahan-lahan pembelajaran. Kita tak akan pernah masuk ke lahan pembelajaran kecuali memiliki sekurang-kurangnya satu dari yang berikut ini: sebuah bisnis, sebuah profesi, sebuah misi, sebuah cita-cita, atau sebentuk impian."

"SABAR itu menjadikan kuat, SYUKUR itu menambah nikmat.

Orang yang sabar melatih kesabarannya dengan melakukan yang harus dilakukan, dengan tidak melakukan yang tidak boleh dilakukan, dan dengan nrimo jika mengalami musibah atau ujian.

Orang seperti itu pastilah kuat. Orang yang sebaliknya akan merasakan stress.

Orang yang bersyukur melatih rasa syukurnya dengan menggunakan hati, perkataan, dan perbuatannya untuk menggali hal-hal baik di sekitar hal-hal baik, seperti anda kadung suka pada seseorang, maka apapun tentang dia cenderung anda sukai juga.

Orang seperti itu pastilah makin banyak yang bisa dinikmatinya. Orang yang sebaliknya akan merasakan kepedihan."


"SABAR itu BE, SYUKUR itu DO, mampu keduanya HAVE."

"Cara tercepat yang paling baik untuk menyelesaikan persoalan dan memudahkan kehidupan adalah dengan BERSABAR dan cara tercepat yang paling aman untuk memelihara dan menumbuhkan kenikmatan adalah dengan BERSYUKUR.

Setiap ilmu, pengetahuan, keterampilan, teknik, pendekatan, cara dan metode apapun dalam dunia karir, profesi, bisnis, kehidupan pribadi, dan kehidupan spiritual yang kita implementasikan secara utuh selalu terdiri dari dua bagian, yaitu technical handling (mengidentifikasi, mengolah, dan menyelesaikan persoalan) dan celebration (merayakan kemenangan kecil).

Tanpa technical handling artinya tanpa ilmu dan kesia-siaan, dan tanpa celebration artinya kejenuhan dan kebosanan."


"Dengan SABAR susah berkurang, dengan SYUKUR nikmat ditambah. Matematika yang sangat sederhana tapi sungguh besar tantangannya. Dimudahkan bagi yang mengejar rasa, menjadi sulit bagi yang mengejar benda."

"Mengeluh itu bernyanyi. Lagunya “panjang umur”, dipersembahkan kepada masalah. Keluhan itu mengabadikan persoalan. Termasuk SABAR itu mengurangi keluhan."

"Pengganti terbaik untuk keluhan adalah rencana. Mengeluh adalah perilaku buruk tentang buruknya sesuatu, sementara kita tak akan merencanakan yang buruk bagi diri sendiri. Termasuk SYUKUR itu membuat rencana."

"Kalau tidak salah polanya begini. Ketika persoalan datang, mengurangi keluhan adalah tanda SABAR. Mengganti keluhan dengan rencana adalah cerminan SYUKUR. Menindaklanjuti rencana itu adalah bukti SABAR. Ketika solusi ditemukan maka itu adalah sesuatu yang patut DISYUKURI. Mengimplementasikan solusi itu tentulah menuntut KESABARAN. Jika solusi itu berhasil menyelesaikan persoalan, maka kita tahu harus bagaimana."

"Keluhan dilekati dengan dua keburukan sebab mengeluh adalah perilaku yang buruk tentang buruknya sesuatu, sementara rencana sudah memastikan setidaknya satu kebaikan sebab kita tak akan merencanakan yang buruk bagi diri sendiri. Dari pada mengeluh lebih baik membuat rencana. Termasuk BERSABAR itu mengurangi keluhan, termasuk BERSYUKUR itu membuat rencana."

"Hidup yang terbaik atau hidup yang terburuk adalah tentang sikap kita terhadap kemustahilan dan terhadap harapan. Kita mustahil menghindari ujian dari Tuhan dan kita mustahil membalas nikmat-Nya. SABAR dan SYUKUR adalah puncak kemampuan kita dalam berurusan dengan apa-apa yang tidak mungkin dan apa-apa yang masih mungkin. Dengan keduanya kita membangun harapan dan tanpa keduanya kita hidup dalam neraka dunia karena mengharapkan yang tidak mungkin dan apa yang sesungguhnya harapan terasa seolah-olah mustahil."

"Keajaiban SABAR dan SYUKUR sungguh gamblang tercermin dalam konteks stimulus - respon. SABAR itu reaktif sebagai respon terbaik kita, dan berbahagialah yang proaktif dengan selalu BERSYUKUR karena itu mentransformasi respon atas nikmat menjadi stimulus untuk mendatangkan lebih banyak nikmat. Hanya dengan keduanya fenomena stimulus - respon akan bertahan sebagai lingkaran kenikmatan."

"SABAR dan SYUKUR itu metaprogram. Program, yang mengendalikan dan memanipulasi segala program-program mental kita."

"Khawatir berlebihan adalah penyalahgunaan kekuatan imajinasi - yang sebenarnya diciptakan untuk membangun mimpi-mimpi indah bukan mimpi buruk mengerikan. Ini adalah tanda kurang SABAR.

Menunda-nunda yang mestinya disegerakan adalah penyalahgunaan kekuatan harapan - yang sebenarnya adalah sepenggal waktu di masa depan yang disiapkan untuk menjadi wadah bagi hasil bukan menjadi gudang bagi hutang-hutang tugas dan pekerjaan. Ini adalah tanda kurang BERSYUKUR.

Jika kita bisa meluangkan waktu setengah jam untuk terlalu khawatir, maka sebenarnya kita bisa mengisi yang setengah jam itu dengan melakukan yang mestinya dikerjakan."


"Kemelekatan kita pada sesuatu, jika terlalu lekat menjadikan kita sukar BERSABAR dan jika terlalu longgar menjadikan kita sulit BERSYUKUR."

"Perjalanan kita penuh godaan. Godaan pertama adalah segala sesuatu yang menahan, menarik, dan memelencengkan kita dari jalan yang indah, baik, dan benar. Di sinilah kita perlu SABAR. Godaan kedua adalah segala sesuatu yang memacu dan mendorong dengan tujuan membablaskan. Di sinilah kita perlu BERSYUKUR. Dua macam godaan itu targetnya sama yaitu menempatkan kita di mana saja selama bukan di titik tujuan. Yang satu tidak sampai, yang satu kelewatan."

"SABAR itu cara yang baik untuk mentransformasi energi dysphoria, SYUKUR itu cara yang baik untuk menyalurkan energi euphoria."

"Dengan SABAR susah adalah ibadah, dengan SYUKUR senang juga ibadah, dan kita tidak diciptakan kecuali untuk itu."

"Kita hidup menjalani trance demi trance. SABAR dan SYUKUR itu kesadaran."

"Sebentuk KESABARAN adalah mengucapkan istighfar, artinya menyadari kebodohan diri. SABAR adalah terus belajar, dan bagaimana mungkin menemukan jawaban jika hanya diam di sudut menjilati luka? Sebentuk RASA SYUKUR adalah mengucapkan hamdalah, artinya mengakui asal muasal segala kenikmatan. BERSYUKUR adalah tetap tersambung dengan sumber nikmat, dan bagaimana mungkin mendapat nikmat jika tak terhubung dengan sumbernya?"

"SABAR itu supaya kita tetap dewasa. SYUKUR itu supaya kita tidak seperti anak kecil."

"Jangan semena-mena dan mempermainkan orang SABAR yang tenang dan diam. Mereka paham betul, intisari sabar adalah peperangan. Mereka diam dan tenang karena sedang sibuk berperang di tingkat yang dalam. Sesuai waktu dan keadaan, jika memang harus mereka akan melakukan perang yang terbuka.

Jangan mengisengi dan memprovokasi orang BERSYUKUR yang banyak beribadah. Mereka paham betul, intisari syukur adalah pengorbanan. Mereka memperbanyak ibadah, karena sedang belajar mengorbankan dunia demi akhiratnya. Sesuai waktu dan keadaan, mereka akan siap mengorbankan nyawa mereka.

Mereka yang sabar dan banyak bersyukur itu cerdas dan selalu siap untuk yang paling ekstrem.

Allahu akbar!"


"Hanya dengan mengingat Tuhan hati menjadi tenang dan tenteram.

Kita telah berhasil lulus di banyak ujian selama masa-masa sekolah kita. Kita telah sering membuktikan bahwa ketenangan adalah hal penting untuk mampu menjawab soal-soal ujian.

Hati yang tenang adalah komposisi perasaan yang dihasilkan oleh kombinasi terbaik dari rasa SABAR dan SYUKUR. Kita bersabar menghadapi belum jelasnya apa-apa yang akan ditanyakan dan kita bersyukur karena kemungkinan-kemungkinan jawaban sudah jelas kita latih sebelumnya.

Terlalu khawatir tentang pertanyaan yang belum jelas dan jawaban yang juga belum jelas adalah kerugian dua kali. Kita mengurangi kerugian dengan cara terus belajar.

Ketenangan sebagai kunci penting untuk lulus, juga berlaku untuk ujian-ujian di sekolah kehidupan."


"Berat bagi saya menyampaikan ini mengingat saya sendiri belumlah pandai tentangnya. Namun demikian saya merasa tetap harus menyampaikan ini demi pembelajaran kita bersama.

Ketika seorang buta meminta petunjuk tentang keringanan sholat, Rasulullah SAW bertanya kepadanya, 'Apakah engkau mendengar suara azan?' Orang itu menjawab, 'Ya Rasulullah.' Lalu Rasulullah SAW berkata, 'Kalau begitu tak ada keringanan bagimu.'

Jika kita masih mampu mendengar suara azan dari jarak puluhan atau bahkan ratusan meter jauhnya, maka bentuk SYUKUR kita atas telinga yang masih peka adalah memenuhi panggilan itu dengan menunaikan sholat tepat pada waktunya.

Sungguh sedih kita, jika menyadari semua ini justru ketika suara keras dari jarak satu atau dua meter tak lagi jelas di telinga kita dan untuk mendengarnya kita harus menempelkan telapak tangan dekat ke telinga seperti orang yang sedang bertakbir.

Lebih sedih lagi kita, jika luruhnya kepekaan generatif ini kita percepat dengan ketidakpedulian karena sibuk mendengar dan melihat hiruk-pikuk dunia. Suara azan yang diamplifikasi sekian ratus watt dan sampai di telinga dengan keras telah menjadi sayup bagi telinga hati yang mata-hatinya hampir lebih buta dari yang buta.

SABAR itu memenuhi panggilan azan di rentang waktu yang telah ditentukan. SYUKUR itu memenuhinya awal waktu di rumah Tuhan.

Astaghfirullahal'adzim. Ya Allah, bukakanlah jalan hidayah bagi kami."


"Orang beriman yang menuntut ilmu adalah mereka yang memasuki wilayah pemahaman yang lebih luas dan makin dalam, yang dengan pemahaman serba meta dan beyond itu mereka semakin mengenal dan mencintai Tuhan, yang dengan itu Tuhan menaikkan status kehambaan mereka lebih tinggi beberapa derajat.

Setiap ilmu memiliki wilayah garapan dan siapa yang bersedia memasukinya akan berpeluang dikaruniai ilmu-ilmu Tuhan. Ilmu yang lebih luas dan makin dalam dimataairkan di wilayah yang lebih luas dan makin dalam.

Tentang dunia ini, lebih dari sekedar mengerti yang di permukaan tanah, mereka memikirkan keajaiban yang di atas langit dan di dalam bumi.

Tentang ruang dan waktu yang mereka meniti hidup di dalamnya, lebih dari sekedar menjalani keseharian semata, mereka memikirkan bagaimana alam semesta ini diciptakan dan bagaimana nanti kiamat akan terjadi dan apa yang akan terjadi setelahnya.

Tentang kehidupan ini, lebih dari sekedar lahir menuju mati, mereka memikirkan keadaan sebelum lahir dan keadaan setelah mati.

Tentang diri mereka, lebih dari sekedar berinteraksi dengan segala yang indrawi di luar diri, mereka memikirkan segala interaksi yang terjadi di dalam diri mereka sendiri.

Tentang positioning mereka di antara makhluk ciptaan Tuhan, lebih dari sekedar memahami diri sebagai makhluk paling cerdas, mereka memikirkan kemungkinan bahwa mereka bisa lebih mulia dari malaikat atau malah lebih rendah dari hewan.

Tentang segala perasaan manusia yang akarnya hanyalah takut atau cinta, alih-alih memaknainya sebatas berlari atau mendekati (away vs toward), mereka memikirkan bahwa jika mereka diciptakan semata-mata untuk beribadah kepada Tuhan, maka kedua perasaan itu haruslah sama-sama menggerakkan mereka menuju kepada-Nya (both towards).

Lalu mereka mengikuti petunjuk Tuhan, bahwa takut kepada-Nya dibuktikan dengan ketaatan yang disertai harapan (khauf dan raja') dan cinta kepada-Nya dibuktikan dengan amalan yang disertai kerelaan berkorban.

Dengan semua itu mereka memahami maksud Tuhan menghadirkan mereka di sini dan saat ini, yaitu untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dan taqwa, dan Tuhan memberi mereka resep untuk menjaga stamina: SABAR itu penjaga harapan dan SYUKUR itu penjaga cinta.

Dengan sabar mereka menjadi berani dan tak putus harapan, dengan syukur mereka rela berkorban dan makin mencintai."


"Cemburu itu tanda cinta masih menyala dan ghirah (cemburu karena agama) adalah tanda iman masih hidup. Cemburu adalah bentuk ketidakrelaan yang berangkat dari rasa ingin menciptakan kebaikan yang didasarkan pada keyakinan.

Siapapun tidak rela jika hartanya dijarah. Siapapun tidak rela jika orang yang dicintainya diganggu dan diusik. Siapapun tidak rela negaranya dijajah. Siapapun tidak rela wanita yang dicintainya dicolak-colek. Siapapun tidak rela jika lelaki yang dicintainya digoda dengan genit. Siapapun tidak rela jika haknya dirampas. Siapapun tidak rela jika kedamaian dan ketenangannya diganggu. Siapapun yang beriman tidak rela jika agamanya diacak-acak. Siapapun yang rela-rela saja cintanya pastilah dipertanyakan.

Cemburu adalah kebaikan selama tidak buta. Rasa cemburu pantas diungkapkan dengan cara yang melek. Jangan larang orang cemburu selama ia tidak membabi buta sebab itu tanda cinta dan cinta sejati selalu tentang kebaikan. Cemburu itu salah satu penjaga cinta dan ghirah itu pagarnya iman.

Orang SABAR yang cemburu membuktikan cinta dengan memelekkan orang lain. Orang BERSYUKUR yang cemburu berterimakasih jika cintanya dihargai."


"SABAR itu ikhlas menerima yang terjadi. Pertanyaannya, siapakah yang telah membolehkan itu terjadi? Jika kita tidak aware tentang ini, maka kita akan mudah menyalahkan.

SYUKUR itu ridho telah menerima sesuatu. Pertanyaannya, siapakah yang telah memberi? Jika kita tidak aware tentang ini, maka kita akan mudah menjadi tak tahu diri.

Hubungan kita dengan benda mati adalah hubungan yang sementara dan hubungan perantaraan. Hubungan sejati makhluk hidup adalah dengan makhluk hidup yang lalu semuanya terhubung dengan yang Maha Hidup.

Belum cukup sabar dan syukur jika belum melibatkan Tuhan dan sabar-syukur yang demikian termasuk 'unspecified referential index'.

Tidaklah manusia diciptakan kecuali untuk memelihara hubungan dengan Tuhan."


"SABAR dan SYUKUR itu musuhnya ada tiga, yaitu blaming, justification, dan excuses (BEJ).

Terus menyalahkan adalah penyakit hati, itu sebabnya yang menyalahkan dan yang disalahkan sama-sama sakit hati. Pembenaran adalah penyakit akal, itu sebabnya yang membohongi menyebutnya kebijakan dan yang dibohongi menyebutnya akal-akalan. Alasan adalah musuhnya badan, itu sebabnya yang memilih atau yang tidak memilih kerja, kerja, dan kerja tetap saja semuanya harus bekerja.

Daripada menyalahkan lebih baik mengoreksi. Dari pada melakukan pembenaran lebih baik melakukan perbaikan. Kalo cuma mau omdo ya cukup kayak status ini aja."


"SABAR itu dua tingkat dan SYUKUR itu tiga tingkat.

Ada yang bersabar atas musibah, sabar seperti ini adalah baik sebab baginya musibah adalah ujian untuk naik kelas. Ada yang bersabar dengan cara bersyukur, sabar seperti ini adalah lebih baik sebab baginya ketentuan Tuhan adalah pengistimewaan.

Ada yang mensyukuri nikmatnya semata-mata, syukur seperti ini tidak peduli siapa yang memberi.

Ada yang mensyukuri perhatian dari yang memberi nikmat, syukur seperti ini tidak mementingkan bentuk dan besar atau kecilnya nikmat yang diterima.

Ada yang mensyukuri peluang untuk makin dekat di sisi yang memberi nikmat, syukur seperti ini menjadikan segala nikmat sebagai sarana untuk bersabar dalam menaikkan peringkat di hadapan yang memberi nikmat."


"SABAR dan SYUKUR adalah pembeda keyakinan dari ego.

Ego dan keyakinan adalah dua kekuatan terbesar makhluk hidup di alam semesta. Keduanya sering dipersepsi mirip atau sama padahal berbeda seratus delapan puluh derajat. Jika keduanya kacau dan campur aduk maka logika akan kacau dan campur aduk dan perasaanpun demikian juga.

Ego itu subyektif berasal dari dalam dan referensinya adalah kebutuhan hidup. Keyakinan itu obyektif berasal dari luar dan orientasinya adalah pemuliaan kehidupan.

Ego itu tentang bertahan hidup. Keyakinan itu tentang hidup yang abadi.

Ego adalah tentang menjaga eksistensi dengan meniadakan yang lain.

Keyakinan adalah tentang penciptaan untuk memelihara dan mengelola apa yang sudah diciptakan oleh yang Maha Menciptakan.

Ego adalah merasa paling besar di alam semesta. Keyakinan adalah penghambaan kepada yang menciptakannya.

Ego adalah passion terendah. Keyakinan adalah passion tertinggi.

Ego itu ketakutan. Keyakinan itu kokoh.

Ego itu terpenjara oleh pikiran, perasaan, dan panca indera. Keyakinan adalah merdeka mengendalikan ketiganya.

Ego mencari tahu dengan mindset. Keyakinan mencari tahu dengan heartset.

Ego itu penggerakknya fitrah, keyakinan itu penggeraknya hidayah. Fitrah itu terima jadi, hidayah itu harus dicari.

Ego menuntut kepastian padahal itu tidak mungkin. Keyakinan menuntut kepercayaan penuh dan itulah batas atas kemampuan manusia.

Ego selalu menuntut penjelasan. Keyakinan tidak mempertanyakan.

Dengan sabar kita selamat dari jebakan ego "Why me?". Dengan syukur kita terhindar dari klaim ego "It's me!".

Dengan sabar dan syukur kita membaliknya seratus delapan puluh derajat.

Dengan sabar kita berkata, "It's me! It is my fault". Dengan syukur kita berkata, "Why me? It is God".

Dalam sabar kita mengucap "astaghfirullah". Dalam syukur kita mengucap "alhamdulillah"."


"Salah satu cara untuk mengukur seberapa kuat vibrasi SABAR dan SYUKUR kita adalah dengan mendoakan kebaikan bagi orang lain yang juga berserah diri kepada Tuhan, yang hubungannya dengan kita lebih jauh dari keluarga atau sanak saudara, tanpa sepengetahuannya. Apa yang kita rasakan saat melakukannya mencerminkan seberapa yakinnya kita bahwa Tuhan adalah Maha Kaya dan Ia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

"Termasuk SABAR adalah marah dan membenci karena Allah. Termasuk BERSYUKUR adalah berdamai dan mencintai karena Allah.

Marah, membenci, berdamai dan mencintai karena Allah berbeda dari marah, membenci, berdamai dan mencintai karena ego dan hawa nafsu.

Marah dan membenci karena Allah adalah tetap berlaku adil dan tidak sewenang-wenang. Berdamai dan mencintai karena Allah adalah tidak zalim dan meletakkan sesuatu pada tempatnya.

Semua itu adalah amalan hati yang tindakan fisiknya mengikuti ketentuan Allah dan ajaran Rasulullah."


"Semuanya telah tertulis dalam rencana Tuhan. Jangan berduka cita terhadap apa yang luput dan jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya. SABAR itu supaya tidak sedih karena ingat diri, SYUKUR itu supaya tidak terlalu senang hingga lupa diri."

"Jangan menjadi buta hanya karena sulit melihat. Jika merasa sulit SABAR dalam urusan rejeki, maka SYUKURILAH bahwa SABAR adalah seluas-luasnya rejeki. Tetap SABAR artinya tetap membuka kesempatan untuk datangnya peluang. Enjoy the journey, keep doing your best."

"TIGA CARA UNTUK BERSABAR

Ini tumben.

Setahun lebih, saya mengupdate status dengan topik SABAR dan SYUKUR yang inspirasinya diangkat dari Quran dan Hadits. Keduanya saya pilih sebagai sumber inspirasi karena SABAR dan SYUKUR adalah konsep akidah, filosofi, dan hakikat alias "sistem operasi".

Kali ini, saya sharing teknik dan aplikasi SABAR. Karena ini adalah teknik dan aplikasi, maka inspirasinya bisa bersumber dari mana saja dan dari fenomena apa saja yang terjadi dalam hidup kita, termasuk yang fiktif sekalipun. Tentunya, dengan catatan tetap berjalan di atas "sistem operasi" yang sama.

Ada tiga teknik dan aplikasi untuk BERSABAR. Dari tiga teknik dan aplikasi yang berikut ini, satu inspirasinya dari sebuah film silat Cina, satu dari film petualangan Hollywood, dan satu dari dunia nyata saya sendiri.

1. BERSABAR dengan Fokus Menjaga Keyakinan.

Dalam film Reign of Assasins, Wheel King atau Cao Feng (diperankan oleh Wang Xueqi) adalah musuh besar Zeng Jing atau Drizzle (diperankan oleh Michelle Yeoh). Pada pertempuran terakhir mereka, Cao Feng terluka parah. Dengan menyeret pedangnya, sambil terseok-seok ia tetap melanjutkan pertempuran sampai titik darah penghabisan, sementara mulutnya tak henti berkomat-kamit mengucapkan doa dan mantra.

Inspirasi yang sama, yaitu bertindak total dan konsisten di dalam keyakinan, bisa kita saksikan dalam film-film mafia atau film-film laga. Seperti itu jugalah mestinya kita pada saat berjihad fi sabilillah (tidak selalu perang). Mereka tetap berjuang sampai penghabisan sekalipun terluka, terseok-seok dan berdarah-darah, dengan tetap mengafirmasikan doa-doa dan kalimat thoyyibah seyakin-yakinnya. Di antara inspirasi terbaik adalah kisah Bilal bin Rabah atau Ammar bin Yasir dan ibu-bapaknya yang tetap dalam keyakinan sekalipun sedang sangat kesusahan.

Tetaplah yakin dalam segala keadaan.

Segala bentuk teknik dan aplikasi SABAR seperti yang berikut ini, dasarnya adalah juga keyakinan.

2. BERSABAR dengan Fokus pada Urgensi Tindakan.

Dalam film Indiana Jones and The Last Crusade, Indy (Harrison Ford), ayahnya Henry Jones (Sean Connery), dan sahabatnya Sallah (John Rhys-Davies) terkejar oleh serombongan pasukan Nazi yang memburu mereka. Pasukan ini bersenjata lengkap dan disertai dengan satu tank berlapis baja.

Dalam upaya menyelamatkan diri dari pasukan ini, Indy berniat merampas beberapa ekor kuda dari mereka. Indy meminta ayahnya dan Sallah untuk menunggu sementara ia mengambil kuda-kuda itu. Ketika ia kembali dengan beberapa ekor kuda, ia hanya bertemu dengan Sallah tapi tidak menemukan ayahnya. Rupanya, ayah Indy tidak menggubris permintaannya dan ia malah berusaha merebut tank Nazi itu sendirian. Indy pun segera berbalik untuk menyelamatkan ayahnya. Wajahnya kecut, kesal, dan marah, tapi ia tak berlama-lama dengan perasaan itu karena sama sekali tak berguna. Mengambil tindakan adalah lebih penting untuk menyelamatkan ayahnya ketimbang berlama-lama dalam marah dan kecewa.

Tetaplah fokus pada urgensi tindakan, tapi janganlah bertindak gegabah seperti sebagian pasukan panah di Gunung Uhud saat perang Badar.

3. BERSABAR dengan Fokus pada Tercapainya Tujuan.

Anak bungsu saya namanya Muhammad Ziyad Abdurrahman. Bayi berusia setahun yang sedang lucu-lucunya dan menggemaskan. Banyak kekonyolan yang dilakukannya dalam rangka belajar. Salah satunya adalah mengunyah apapun yang ditemukannya. Mainan digigit. Bukan mainan digigit. Bertemu semut dipungut dan digigit. Ketemu kertas dikunyah. Tisu dikunyah. Begitu seterusnya.

Setiap kali, saya sebagai orang tua selalu melakukan intervensi dan filtrasi tentang apa-apa yang layak masuk ke mulutnya dan apa yang tidak layak karena kotor atau karena memang bukan makanan. Setiap kali pula, Ziyad akan mengulanginya. Setiap kali diintervensi, Ziyad tidak marah atau kecewa. Ia hanya menatap dengan mimik seperti bertanya, tapi tetap saja semua itu diulang-ulang juga. Baginya, apa yang penting adalah ia punya tujuan dan ia ingin tujuan itu, tercapai. Tidak ada marah, tidak ada kecewa. Hanya lakukan, lakukan, dan lakukan, demi tercapainya tujuan.

Fokuslah pada tercapainya tujuan dengan tidak membuang waktu dan tenaga untuk mmengeluh, marah, atau kecewa dan tetap mengambil tindakan terbaik.

Tiga cara untuk BERSABAR di atas jelas tidak datang dengan sendirinya melainkan semuanya menuntut latihan demi latihan. BERSABAR adalah menjaga fokus pada pikiran yang jernih dan bukan tenggelam dalam perasaan.

Mari kita kuatkan KESABARAN kita dengan melatih berbagai "aplikasi" tapi tetap tegas dalam berhati-hati demi menjaga integritas "sistem operasi"."


"LATIHAN SABAR DAN SYUKUR DENGAN EGO THERAPY

Kita akan cenderung powerful atau berdaya jika kita dapat menselaraskan pikiran dan perasaan terkait sebuah fenomena, keadaan, atau kejadian. Sebaliknya, kita akan cenderung powerless atau tidak berdaya jika pikiran dan perasaan kita berkonflik, bergesekan, atau bertentangan. Dalam bahasa ego, jika ego-ego saling mensabotase, saling tidak memberdayakan, atau saling membatalkan keberdayaan. Ego dapat menjadikan kita tidak merdeka dan tidak berdaya dan sebaliknya ego juga dapat menjadikan kita merdeka dan berdaya.

Contoh klasik tentang hal ini adalah fenomena "iya sih... tapi kan...." Dua ego di dalam diri sedang bertengkar, yang satu kurang BERSYUKUR dan yang satu lagi tidak SABAR. Keduanya seperti dua sosok manusia yang utuh karena keduanya memiliki pengetahuan, keterampilan, mindset, pikiran, perasaan, pembenaran, asumsi, pengalaman, dan bahkan keyakinannya masing-masing (empowering versus limiting). Yang satu adalah "ANDA" dan yang satu lagi adalah "anda". Keduanya sedang otot-ototan beradu argumen dan berusaha saling meyakinkan.

Yuk latihan.

Misalnya anda berhadapan dengan sebuah situasi A. Lalu, anda mengatakan (secara implisit atau eksplisit), "Duh... sepertinya ini memang sulit dilakukan, sebab saya memang tidak terlalu banyak tahu tentang keadaan ini." Salah satu ego anda sedang menjadikan anda tidak berdaya. Maka, ego lain yang lebih berdaya perlu maju tampil ke muka. Panggilah ANDA dan mintalah nasehatnya. Siapa itu ANDA?

ANDA adalah sosok di dalam diri yang,

1. anda segani dan hormati,
2. menurut anda layak didengar nasehatnya,
3. anda percaya nasehatnya bijaksana.

Kira-kira, apa yang ANDA nasehatkan?

Mungkin begini. "Ah enggak kok. Nggak terlalu sulit. Informasinya gampang dicari loh. Keep trying aja. Entar juga pasti ada progressnya. Gue percaya dah, lu insya Allah bisa." Berilah kesempatan kepada keduanya, dan jangan lupa minta mereka selalu berkonsultasi dengan hakim yang menjadi penengah mereka. Istafti qalbak (tanya mbah Google).

Maka, saat anda merasa tidak berdaya, anda merasa powerless, anda merasa bahwa situasi, keadaan, atau kejadian yang anda alami sulit dibenahi, diselesaikan, atau diatasi, ANDA tahu toh harus bagaimana?

Gampang-gampang susah, tapi anda memang patut mempercayai diri ANDA sendiri."


"SABAR dan BERSYUKUR artinya adil menjaga batas kedaulatan. Siapa yang tidak sabar sedang memasuki wilayah-Nya, siapa yang kurang bersyukur sedang memasuki wilayah anaknya."

"TERAPI SABAR DAN SYUKUR

SABAR dan SYUKUR memiliki nilai therapeutic dan sungguh segala bentuk terapi mental hakikatnya adalah terapi sabar dan syukur. Cerita tentang Pesantren X di Jawa Timur berikut ini mewakili banyak institusi pesantren yang merangkapkan fungsinya sebagai "rumah penyembuhan" berbasis SABAR dan SYUKUR.

Di sela-sela aktivitasnya sebagai sebuah sekolah bagi orang-orang yang ingin memperdalam ilmu agama dan kehidupan, pesantren ini menerima pula para pasien yang mengalami berbagai penyakit kejiwaan yang datang dari penjuru negeri. Para pasien ini datang atau didatangkan dengan membawa berbagai masalah mental mereka, entah karena kesulitan hidup, karena hubungan yang rusak, patah hati, karena broken home, ingin bunuh diri, karena bisnis atau karir yang hancur, akibat narkotika, dan sebagainya. Tentunya, tingkat keparahan mereka pun berbeda-beda.

Pasien dengan tingkat keparahan "sedang" dan "ringan", ditempatkan di sebuah rumah khusus untuk berkumpul dan hidup bersama selama dua minggu dengan beberapa pasien lain yang levelnya "berat". Begitu parahnya mereka yang "berat" ini sampai-sampai tidak peduli buang air besar di ruang tamu lalu menjadikannya mainan dan dioles-oleskan ke sekujur tubuh dan tembok rumah (naudzubillah!). Sementara itu, pasien dengan level "sedang" dan "ringan" justru "nggak diapa-apain" kecuali hidup bersama mereka dan diajak beraktivitas normal dan beribadah secara normal. Ajaibnya, mereka yang "nggak diapa-apain" ini justru sembuh dalam waktu singkat! Mereka memang "nggak diapa-apain", tapi mereka menemukan betapa pantasnya mereka BERSYUKUR daripada terlanjur menjadi "berat".

Setiap kasus kejiwaan yang diderita oleh para pasien di atas, tidak bisa lepas dari peran atau pengaruh keluarga dan orang-orang terdekat mereka. Dengan kata lain, keluarga dan orang dekat ini juga memerlukan "treatment". Maka, pesantren ini menyediakan sebuah rumah khusus bagi para keluarga dan orang dekat pasien agar mereka bisa beristirahat atau menginap di sana. Uniknya, rumah khusus ini dibuat begitu mewah dan bahkan di depan rumah itu sengaja diparkirkan sebuah mobil mewah. Lebih unik lagi, para keluarga dan orang dekat ini sering didiamkan dan diacuhkan oleh pihak pesantren, terlebih lagi jika mereka dianggap sebagai orang-orang yang sok kaya atau sok kuasa atau yang petantang-petenteng. Mereka, bisa didiamkan selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari padahal pesantren ini jauh dari mana-mana. Ajaibnya, mereka yang juga "nggak diapa-apain" ini mengalami pergeseran mental ke arah yang lebih baik! Mereka memang "nggak diapa-apain", tapi mereka menemukan betapa pantasnya mereka BERSABAR daripada sok kaya, sok kuasa atau petantang-petenteng.

Bagaimana kita memetik pelajaran dari susah dan senang yang kita alami hari ini?"


"SABAR itu skillnya khalifah, SYUKUR itu skillnya abdullah. Kita diperintah untuk bersabar justru karena kita kuat bukannya lemah. Kita diperintah bersyukur untuk mengingat bukanlah kita yang paling hebat. Sabar itu leadership, syukur itu followership. Sabar itu manajemen kekuatan, syukur itu mengakui kelemahan dengan elegan."

"SABAR dan SYUKUR cara "mak jleb".

Kita diperintah bersabar justru karena kita kuat. Jika kita belum melihat kekuatan kita, itu karena kita belum mensyukurinya. Kita diperintah bersyukur karena bukanlah kita yang paling hebat. Jika kita merasa paling hebat, maka kita akan celaka.

Semoga, di zaman yang teknologi dan peradabannya begitu maju sehingga sangat membantu kreatifitas dan kemampuan berpikir, kita tidak melampaui batas dengan menjadi gagal sabar dan syukur karena tidak mau memikirkan ayat (tanda) dari Tuhan. Kita sudah diingatkan lewat kisah segolongan manusia yang gagal sabar dan syukur beberapa ribu tahun yang lalu.

"Gagal sabar dan syukur?"

Tuhan: "Jadilah kamu kera yang hina."
Musa: "Bunuhlah dirimu (baca: Mampus aja!)."

Jika sabar itu sulit, itu karena syukur kita masih sedikit."


"Puncak kemampuan fisik manusia adalah "cara". Puncak olah rasanya adalah "keyakinan". Puncak olah pikirnya adalah "prasangka". Cara terbaik sumbernya "pasrah", keyakinan terbaik sumbernya "iman", prasangka terbaik sumbernya "ihsan". Tuhan sesuai prasangka hamba-Nya, SABAR dan SYUKUR adalah sebaik-baik prasangka."

"TIGA CARA UNTUK BERSYUKUR

1. MENGINGAT NIKMAT YANG PERNAH LEWAT

"Ingatlah ketika dahulu..."
... dan kita sering lupa.
"Oh ya? Masak sih?
Iya ya.."

Padahal, suatu saat kita akan pikun dan sulit mengingat. Maka, ingatlah selagi masih bisa mengingat, karena masih bisa mengingat adalah pintunya zikir.

2. MEMANFAATKAN NIKMAT YANG MASIH DI SINI

"Apa saja yang bisa kubagikan manfaatnya hari ini?"
.. dan kita sering mengingkari.
"Iya sih... tapi kan..."

Padahal, kita tak pernah pasti apakah kesenangan kita adalah baik bagi kita. Maka, pastikanlah kebaikannya dengan berbagi manfaat, karena berbagi manfaat adalah meneladani kasih sayang Tuhan.

3. MENGHARGAI NIKMAT YANG DALAM PERJALANAN

"Peluang dan kesempatan apa yang bisa kutanami saat ini agar menjadi nikmat nanti di kemudian hari?"
... dan kita sering tidak sadar.
"Nanti sajalah, besok juga bisa."

Padahal, kita tak pernah tahu kapan kita akan mati. Maka, berbuat baiklah selagi masih bernafas, karena berbuat baik adalah amal soleh.

Berapapun yang kita temukan, nikmat Tuhan sungguh tak terhingga. Kitalah yang sering lupa, tidak mengakui, dan tidak menyadari."


"Pikiran mengkreasi rasa, perasaan mengarahkan pikir.
- Manajemen Pikiran dan Perasaan, hal.66 -

Jangan sampai perasaan kita terlanjur mengacak-acak pikiran kita, sebab yang namanya perasaan tak kenal baik atau buruk dan tak kenal benar atau salah.

Ciptakanlah perasaan yang memberdayakan dengan menimpalinya dengan pikiran yang memberdayakan.

Susah dan senang itu perasaannya, SABAR dan SYUKUR itu pikirannya, maka susah dan senang tak lagi menjadi penjara."


"Jika kita sudah merasa SABAR tapi keadaan belum membaik, mungkin sabar kita belum cantik.

Bersabarlah dengan sabar yang indah (fashbir shabran jamiila). Sabar yang indah adalah sabar yang tidak disertai keluhan dan curhat kian-kemari.

Ujian datang dari Tuhan, maka mengeluh dan curhat juga kepada Tuhan. Jika mengeluh bukan kepada Tuhan, mungkin justru mengeluhkan Tuhan. Jika curhat bukan kepada-Nya, mungkin kita malah ngerumpiin Dia.

Sungguh tidak mudah, yet worth a try."


"Hidup ini isinya SABAR dan SYUKUR. Mari kita sabar dan syukuri kehidupan ini. Jika selagi hidup kita menuntut yang pasti-pasti, maka ketahuilah bahwa yang paling pasti adalah mati. Rugi besar jika kita mati dalam keadaan tidak sabar apalagi dalam keadaan tidak bersyukur, karena itu bukanlah kesudahan yang baik. Aamiin... aamiin... YRA."

"Menjadi SABAR itu memang sulit karena kita menginginkan kurang dari yang kita alami tapi tidak bersedia mengurangi penyebabnya (taubat). BERSYUKUR itu memang lebih sulit karena kita menginginkan lebih dari yang sudah ada tapi masih enggan melebihkan perbuatan baik kita (amal soleh)."

"Jika kita menjalani keadaan sulit dengan rasa senang, insya Allah makin mudah bagi kita untuk SABAR sembari BERSYUKUR. Kehidupan ini adalah permainan dan senda gurau yang telah dimudahkan oleh Tuhan. Bukan tidak mungkin, kapitalis tulen Donald Trump malah lebih yakin daripada kita tentang hakikat ini. Dia berkata,"Money is a way to keep score. The real excitement is playing the game." Mungkin kita masih sering gagal paham, tapi ini sungguh layak kita renungkan. "

"Susah dan senang, kedua-duanya adalah gejolak energi. Keduanya selalu butuh stabilisasi karena keduanya adalah percikan kecil yang berpotensi mengobarkan kelabilan. SABAR itu menenangkan jiwa yang susah dan SYUKUR itu menenangkan jiwa senang. Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan dan semoga kelak kita dipanggil sebagai jiwa yang tenang. Aamiin."

"SABAR itu sikap hati-hati yang dibuktikan dengan menyederhanakan segala ketakutan sampai yang tersisa hanyalah takut kepada Tuhan yang dengan itu segala potensi diri menjadi bebas dari belenggu-belenggu.

BERSYUKUR itu sikap rendah hati yang dibuktikan dengan memanfaatkan nikmat yang sudah ada dengan rasa puas karena mengharapkan nikmat yang lebih baik di hari kemudian.

Dalam naungan sabar dan syukur, kehati-hatian, kesederhanaan, kerendahan hati, rasa puas diri, takut dan harap adalah ibadah."


"Tuhan itu Maha Mengabulkan dan Maha Menjawab doa dan pertolongan-Nya amat dekat. Bisa jadi kita telah mencoba menjadikan doa sebagai andalan tapi belum menjadikan SABAR dan sholat sebagai penolong. Bersabar dengan berdoa itu baik, tapi sekedar meminta itu terlalu mudah. Bersabar dengan bekerja keras melakukan yang terbaik itu sulit dan menegakkan sholat itu sungguh sulit kecuali bagi yang khusyu' dan rendah hati."

"Dalam hidup yang samudera kemungkinan yang paling penting adalah keyakinan. SABAR itu keyakinan yang baik sebab yang rasanya pahit belum tentu buruk. BERSYUKUR itu juga keyakinan yang baik sebab yang enak-enak belum tentu baik."

"Pada puncaknya, kita patut BERSYUKUR bahwa yang kita SABARI adalah ujian dan cobaan yang keduanya dinamai ujian karena bertujuan menaikkan derajat yang diuji dan disebut cobaan karena hanya mengambil sedikit dari yang sudah ada.

Pada akhirnya, kita patut BERSYUKUR bahwa kita tidak akan mampu menghitung nikmat Tuhan yang itu menjadi jaminan bahwa sampai akhir hayat senang kita dipastikan selalu lebih banyak daripada susahnya. Sabar itu jalan, syukur itu tujuan."


"Hakikatnya, BERSABAR dan BERSYUKUR itu demi menciptakan bekal bukan demi menciptakan warisan."

Posted on Selasa, Februari 24, 2015 / 0 comments / Pembicara Motivator >>
 
Copyright © 2011. Ikhwan Sopa - Pembicara Motivasi - Motivator Pengembangan Diri . All Rights Reserved
Theme Design by Herdiansyah . Published by Borneo Templates