Seminar Basic Supervisory Skills
"SUPERVISORY SKILLS - IN A NUTSHELL"

Seminar Mindset Penjualan
"PRODUCTIVE SELLING MINDSET"

Seminar Pengembangan Diri, Leadership, dan Self Mastery
"HOW TO TURN MESS INTO MESSAGE"

Seminar Agen Perubahan - Agent of Change
"AGEN PERUBAHAN - AGENT OF CHANGE"

Workshop Pembicara Kharismatik - Charismatic Speaking
"PEMBICARA KHARISMATIK - CHARISMATIC SPEAKING"

Seminar Pelayanan Prima - Service Excellence
"SERVICE EXCELLENCE - PELAYANAN PRIMA"

Pelatihan Komunikasi Efektif - Effective Communication
"KOMUNIKASI EFEKTIF - EFFECTIVE COMMUNICATION"

Workshop Public Speaking - Pembicara Publik
"PUBLIC SPEAKING - PEMBICARA PUBLIK"

Seminar Peningkatan Produktivitas Kerja
"4 PRODUCTIVITY BOOSTERS SYSTEM"

Kamis, Maret 31, 2011

Saya Ingin Jadi Trainer Dan Pembicara, Gimana Caranya?


"Do what you love to do."
Steve Jobs - Salah satu pembicara yang paling diminati sedunia

"Ketika aku berhasil memetik sebuah pengetahuan, pengetahuan itu menjadi tak berlaku lagi bagiku. Perjalananku adalah meraih pengetahuan berikutnya."
Ikhwan Sopa - Calon pembicara dan trainer ternama, insya Allah, aamiin

"The best way to learn is to teach."
Frank Oppenheimer - Pembicara dan trainer yang merasa bersalah atas karyanya - bom atom

Seorang sahabat di dunia maya bertanya pada saya, "Apa rasanya jadi trainer dan pembicara motivasil? Bagaimana saya dapat menjadi salah satunya?" Jawaban dari pertanyaan itu, bisa menjadi satu buku tersendiri.

Secara sederhana, saya jawab begini.

Di antara sukanya, adalah kemungkinan yang makin besar bagi saya untuk melakukan sharing, berbagi manfaat, dan menolong orang lain - dan sekaligus menolong diri sendiri. Positioning seperti ini, menempatkan saya pada keadaan yang memungkinkan diri saya memenuhi kebutuhan dasar dan sekalligus kebutuhan puncak - yaitu artikulasi dan aktualisasi diri. Secera lebih sederhana lagi, kesukaan itu ada pada fenomena ini: Menjalani hobi dan dibayar.

Di antara dukanya, adalah peluang dan kemungkinan melakukan kesalahan dalam berbicara atau mengajarkan sesuatu kepada orang banyak, dan mungkin saya akan menanggung dosa-dosa mereka yang mengikuti ajaran saya. Semoga saya terhindar dari kedukaan yang demikian. Aamiin...

Kali ini saya sharing yang sederhana saja. Sesuatu yang sederhana, tapi sangat mendasar sifatnya.

Seperti yang dikatakan oleh Steve Jobs di atas, mulailah menjatuhkan pilihan kehidupan pada apa-apa yang kita senang melakukannya, dan pada apa-apa yang menjadikan diri kita senang karena melakukannya . Pilihlah yang baik, yang kebaikannya berpengaruh pada banyak orang. Dan seperti yang diungkap oleh Frank Oppenheimer, mengajar adalah salah satu cara terbaik untuk belajar. Di dalamnya, termasuk segala pelajaran guna menyelesaikan dan menemukan solusi untuk berbagai masalah dan persoalan pribadi.

Perhatikan mereka yang sukses dan berhasil, yang menyenangi apa yang mereka lakukan dan mendapatkan kesenangan dari apa yang mereka lakukan.

Para pengusaha sukses adalah pembicara dan trainer yang sukses. Pemimpin yang besar pengaruhnya adalah pembicara dan trainer yang berhasil. Penjual yang berhasil adalah mereka yang berhasil mendidik klien dan kustomernya. Orang tua yang berhasil adalah contoh, pembicara, dan pelatih yang berhasil. Siapapun diri kita yang sukses dan berhasil, adalah pembicara dan trainer yang berhasil bagi diri sendiri.

Jika saya menelusuri kehidupan dan jejak pribadi saya, saya sendiri tak pernah menyangka bahwa saya yang awalnya adalah seorang akuntan dan auditor keuangan, bisa bermuara menjadi seorang pembicara dan trainer motivasi. Dengan segala penghargaan kepada sejarah kehidupan saya, yang telah menjadi mozaik-mozaik kehidupan saya, saya mengucapkan Ahamdulillah.

Apa yang saya tahu sebelum hari ini dan sampai hari ini, adalah mengikuti aspirasi, inspirasi, dan semangat dari dalam diri saya sendiri. Bagaimana memahami semua ini?

Manusia adalah makhluk yang terus bergerak hingga di ujung usianya. Pergerakan itu di antaranya dipicu oleh kebutuhan-kebutuhan di dalam kehidupan. Abraham Maslow mengungkapkan hirarki kebutuhan manusia itu sebagai berikut (dan berbagai variasinya dari para pakar lain yang kurang lebih mencerminkan hal yang sama):

1. Kebutuhan fisiologis/dasar.
2. Kebutuhan akan rasa aman dan tentram.
3. Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi.
4. Kebutuhan untuk dihargai.
5. Kebutuhan untuk aktualisasi diri.

Semua kebutuhan di atas, membentuk sebuah piramida yang mengerucut dan menajam dari nomor satu ke nomor lima.

Mengapa "hirarki"? Karena semua itu secara empirik alias pengalaman, adalah proses yang berurutan. Mengapa "berurutan"? Karena semua itu cenderung mengikuti perjalanan usia.

Maka, tidakkah kita menyadari, bahwa perjalanan menuju diri sebagai "pembicara dan trainer" adalah sebuah perjalanan yang "otomatis"?

Cepat atau lambat, seseorang akan sampai ke posisi yang memungkinkan dirinya bergeser menjadi pembicara atau trainer. Siapapun mereka yang fokus dalam menyukai apa yang dikerjakannya, akan bermuara menjadi penulis, pembicara, atau trainer. Seorang penyanyi, akan sampai ke suatu titik di mana ia akan memandang bahwa dirinya perlu menularkan kemampuan menyanyinya. Pada saatnya, seorang pelukis akan tiba pada suatu masa di mana ia merasa perlu mengaktualisasi diri dengan mengajari orang lain tentang segala keahlian berseninya. Begitu pula yang terjadi dengan segala profesi dan jenjang karir di dalam kehidupan setiap orang.

Bagaimana memuluskan perjalanan yang aslinya dan alamiahnya "otomatis" ini?

Sadarilah bahwa cepat atau lambat, kita akan semakin matang di dalam kedewasaan mental dan usia fisik. Sadarilah bahwa cepat atau lambat, setiap kita akan menjadi pembicara atau trainer, setidaknya bagi anak-anak kita sendiri di rumah. Sadarilah, bahwa jika kita menyukai dan menikmati apa yang kita lakukan di dalam profesi atau karir yang kita jalani, maka suatu saat kita akan dipersepsi sebagai senior (dalam usia, keahlian, dan pengalaman) oleh kehidupan itu sendiri. Di titik ini, lingkungan dan masyarakat di sekitar kita akan mulai menjadikan kita sebagai salah satu referensi, menjadi tempat bertanya, curhat, atau meminta nasihat. Kita akan mulai diminta untuk berbicara, kita akan mulai diminta untuk bersuara.

Lebih dari semua itu, sadarilah dan hargai sepantasnya segala semangat, aspirasi, dan inspirasi dari dalam diri sendiri. Setiap kita pasti memiliki idealisme tentang sesuatu atau banyak hal. Manusia adalah makhluk idealis. Jangan sepelekan semua pantulan dari dalam diri itu, geserlah menjadi impian dan harapan. Jangan remehkan semua itu, dan biarkan diri ini larut ke dalamnya secara alamiah, mengikuti perkembangan usia dan perkembangan kebutuhan.

Pen-sabotase terbesar dari langkah menuju ke titik yang lebih tinggi ini, adalah keterkungkungan diri kita pada kebutuhan yang sifatnya dasar saja. Siapapun yang hanya berpikir, berniat, berfokus, dan bekerja semata-mata untuk kebutuhan dasar saja (makan-minum, pakaian, rumah, mobil, harta dan kekayaan semata), akan mendapatkan apa yang ia pikirkan, niatkan, fokuskan, dan kerjakan itu. Padahal, semua itu akan tumbuh dan menumbuhkan kebutuhan berikutnya sejalan dengan perjalanan usia.

Segala hal berhubungan erat dengan niat kita. Kita perlu menyadari, bahwa hidup ini bukan untuk semua itu, melainkan semua itu adalah demi kehidupan. Kita hidup untuk kehidupan. Kehidupan di "sini" dan kehidupan di "sana". Hidup ini adalah bagian dari perjalanan. Dunia ini perhentian sementara. Kita tak mengumpulkan bekal hanya untuk bertahan di halte. Mau tidak mau, perjalanan akan dilanjutkan.

Aspirasi, inspirasi, dan semangat, alias idealisme, memiliki nuansa yang lebih tinggi dari sekedar kebutuhan dasar. Inilah, yang jika kita resapi dengan baik dan penuh kesadaran, akan menempatkan diri dan kehidupan kita menjadi lebih alamiah, sesuai pertumbuhan usia, sesuai perkembangan kedewasaan dan kebijaksanaan kita, yang masing-masingnya memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Kesadaran ini, akan mengaktivasi bergulirnya spiral besar kehidupan.

Kuncinya adalah terus dan tetap belajar. Semakin kita belajar, semakin kita memperkaya khasanah kehidupan. Semakin kaya kita akan khasanah kehidupan, maka kehidupan akan semakin meminta kita untuk berbagi dan mengaktualisasi diri. Beginilah hukum kehidupan. Diri kita adalah gerbang pelaluan. Apa-apa akan menjadi rizki, ketika ia sampai ke tempatnya. Apa yang masuk, perlu dikeluarkan. Diri ini, cuma wadah kecil bagi kehidupan. Normalnya, kita hanya makan sehari tiga kali. Itupun, harus dikeluarkan lagi. Fenomena yang sama, juga berlaku untuk kebijaksanaan kehidupan, untuk ilmu, dan untuk pengetahuan. Tidak menyalurkannya ke tempat yang memerlukan, hanya akan membuat kita sakit.

Kuncinya, tidak terjebak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Jika kita paksakan, sejalan dengan usia dan tuntutan alamiah kehidupan dengan segala kebutuhannya untuk makin dewasa dan makin bijaksana, kita akan mulai menemukan lubang-lubang kekosongan di dalam kehidupan. Teruslah belajar, nikmati apa yang kita jalani, buktikan bahwa dunia ini kaya, indah, baik, dan penuh (fullfilled). Hidup, adalah untuk TUMBUH.

Dengan tetap menjadi pembelajar, sejalan dengan waktu kita akan secara otomatis menjadi trainer dan pembicara. Selanjutnya, kita hanya perlu menentukan "wilayah kerja". Menjadi pembicara dan trainer bagi diri sendiri, bagi keluarga, atau bagi orang banyak. Tak ada yang salah dengan semua itu, sebab semua itu hanya soal pilihan. Dan apapun piihan kita, kita akan pasti berujung sebagai pembicara dan trainer. Sebab, dengan menjadi pembelajar yang terus mengasah ilmu dan keahlian, dalam rangka mengisi kehidupan yang makin berarti, suara kita (yang semoga mewakili suara Tuhan) akan makin didengar dan perlu digemakan ke seantero alam semesta ciptaan-Nya. Alam semesta telah mendahului kita. Pohon dan binatang terus bertasbih. Batu secara konsisten melakukannya. Semua memuji-Nya. Hanya manusia dan jin, yang diberi kesempatan untuk belajar dan bertualang terlebih dahulu, dan diberi secukup waktu untuk dapat sampai ke pemujaan dan penyembahan yang sama kepada Tuhan. Hidup ini untuk itu bukan?

Teruslah belajar. Setiap kita sudah ditetapkan oleh takdir kemanusiaan, untuk akhirnya muncul sebagai pembicara dan trainer.

So, dakwah itu memang wajib.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Penulis Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"
Posted on Kamis, Maret 31, 2011 / 0 comments / Pembicara Motivator >>

Rabu, Maret 30, 2011

Takdir Tuhan Di Atas Segala Keajaiban



"Dan bahkan jika seluruh alam semesta ini mampu mendatangkan keajaiban, yang berlaku tetaplah takdir Tuhan."
Ikhwan Sopa
Posted on Rabu, Maret 30, 2011 / 0 comments / Pembicara Motivator >>

Minggu, Maret 27, 2011

Meneladani Kegagalan


"Menarilah dan terus tertawa... walau dunia tak seindah surga.. bersyukurlah pada Yang Kuasa..."
Laskar Pelangi
 
"Jika Anda gagal berulang-ulang, maka tentang itu Anda pasti sudah lihay bukan kepalang. Selalu ada cara untuk mengakali kegagalan hingga ia memberhasilkan."
Ikhwan Sopa

Hari ini adalah hari kedua Workshop E.D.A.N. Angkatan 77. Di depan tuh, Om Assue sedang mengisi sesi "Dances With Goals". Di bagian belakang kelas ini, saya menuliskan semua ini. Tulisan ini, adalah tentang "Dances With Failures". Akan kita buktikan kedahsyatan liukannya.

Satu kali gagal dapat membuat kita frustrasi. Kegagalan berulangkali menjadikan kita penumpuk frustrasi. Ini saatnya untuk "separate problem from the problem" alias memilah masalah dari masalah.

Bukan kegagalan itu sendiri yang membuat kita gerah, tapi frustrasi yang menumpuk itulah, yang membuat kita merasa semakin payah. Bukan fenomena gagalnya, tapi fenomena rasa frustrasinya.

Tulisan ini berhubungan dengan dua tulisan sebelumnya, yaitu:

1. "Bagaimana Menyukai Diri Sendiri" (termasuk kegagalan yang kita alami - http://goo.gl/nFGzd )
2. "Kegagalan Adalah Kompetensi" (kegagalan adalah hasil alias pencapaian - http://goo.gl/Ab8Z2 )

Di tulisan yang pertama, saya mensharing tentang perlunya upaya kita secara sengaja untuk menyukai diri sendiri dengan segala fenomenanya. Bukan hanya tentang yang baik dan berhasil saja, melainkan juga tentang yang masih buruk dan segala bentuk kegagalan yang telah kita alami.

Di tulisan yang kedua, saya mensharing tentang fenomena kegagalan, di mana setiap kegagalan adalah sebentuk hasil atau pencapaian. Dalam tingkat tertentu, kegagalan bahkan telah menjadi sebentuk kompetensi. Jika kita telah sering mengalami kegagalan untuk sebuah tujuan, maka kita pasti telah "sangat terlatih" untuk menciptakan kegagalan itu. Dengan kata lain, di dalam prosesnya, ada kekuatan atau energi yang tidak kita sadari, telah bekerja untuk menciptakan kegagalan itu. Dan karena kekuatan atau energi itu melekat pada diri kita, maka dikatakan bahwa kita adalah pemanfaat dari energi atau kekuatan itu. Hanya saja, kita masih memanfaatkannya dengan cara yang belum tepat.

Jika tulisan kedua itu bercerita bahwa untuk gagal pun diperlukan kompetensi, dan bahwa kegagalan demi kegagalan dapat menguatkan kompetensi untuk makin ahli dalam menghasilkan kegagalan berikutnya, maka tulisan ini bercerita tentang hal yang sebaliknya, yaitu bagaimana berbagai kegagalan dapat menciptakan kompetensi untuk memberhasilkan (he...he...he.. ane paling doyan sama model "reverse engineering" begini).

Ketika kita mengalami kegagalan, kita merasa frustrasi. Dan jika kita masih berorientasi pada kebijaksanaan, maka kita biasanya berupaya mencari nasehat-nasehat terbaik yang kita anggap bijaksana dan memberhasilkan. Ini kita lakukan demi tetap tegarnya upaya dan pergerakan kita. Kita mulai menari dengan meyakini kebijaksanaan-kebijaksanaan.

Kebijaksanaan #1:

"Gagal hanya ada jika kita berhenti."
(Ikhwan Sopa)

Berbekal kebijaksanaan itu, kita memantapkan diri untuk pantang menyerah. Kita mematok keputusan untuk melakukannya lagi. Kita melakukan tindakan dan perbuatan, dalam rangka melakukannya sekali lagi.

Lalu... kita gagal lagi.

Terengah-engah, kitapun berpaling dari kebijaksanaan nomor 1 ini. "Saya udah coba berkali-kali, it didn't work!", begitu kata kita.

Tapi kita pantang menyerah, dan kita sama sekali tak mau kalah. Kita mencari kebijaksanaan berikutnya, demi keberhasilan yang kita idam-idamkan. Kita raih kebijaksanaan itu, kita peluk erat dan kita bawa berjalan menapaki kembali perjalanan menuju keberhasilan.

Kebijaksanaan #2:

"Insanity: doing the same thing over and over again and expecting different results."
(Albert Einstein)

Einstein memang tidak bermaksud mengacu pada tujuan yang berbeda. Itu sebabnya, apa yang dimaksud dengan "the same thing" adalah soal caranya. Kita ingin kaya, ya ingin kaya saja. Kita ingin maju, ya ingin maju saja. Kita ingin jadi pengusaha, yang ingin jadi pengusaha saja. Kita ingin berhasil menjual, ya ingin berhasil menjual saja. Tetap itu-itu juga tujuan kita. Apa yang ingin kita ubah di dalam tindakan, adalah cara-caranya.

Kita bersemangat lagi. Kita terpompa untuk melakukannya lagi dengan cara-cara baru. Kita berusaha lagi.

Lalu... kita gagal lagi.

Dan lagi-lagi, kita meninggalkan kebijaksanaan nomor 2 ini. "It still doesn't work!", begitu kata kita. Kita pun mencari semangat dan motivasi baru.

Kebijaksanaan #3:

"There is no failure. Only feedback."
(Robert Allen)

Hmmm... kompetensi kita mulai terbangun di sini. Kita mulai memahami makna-makna yang makin dalam tentang kegagalan. Kita mulai mengerti arah yang diinginkan oleh keberhasilan. Kita mulai menyuntikkan keyakinan, bahwa gagal itu bahkan sama sekali tidak eksis. Dengan ekstrem kita menyuarakan kepada diri kita sendiri, "Gagal itu nggak ada!". Lalu kita bergerak lagi.

Feedback atau umpan balik, adalah informasi. Jika kita tidak salah memaknai apa itu "informasi", maka kita tak akan terjebak dan tenggelam dalam upaya untuk menggali dan mencari tahu siapa yang pantas dituduh sebagai penyebab kegagalan, atau mencari kambing hitam untuk dipersalahkan atas kegagalan.

"Informasi", bukanlah tentang semua itu. "Informasi" bukanlah segudang data yang begitu rumit dan makin memperberat frustrasi karena kegagalan. "Informasi" sebenarnya lebih sederhana dari itu. "Informasi" adalah tentang "rambu-rambu".

Ibarat berkendara di jalanan, kita berjalan - jika ingin selamat - alias sampai tujuan - alias berhasil dengan apa yang kita targetkan, dengan menaati rambu-rambu di jalanan. Rambu-rambu itu, setidaknya terdiri dari dua macam, yaitu:

1. Rambu yang bersifat "petunjuk", dan
2. Rambu yang bersifat "larangan".

Hanya sekedar mengikuti "petunjuk" tanpa menjauhi "larangan", belum tentu membuat kita berhasil. Sebaliknya, sekedar menjauhi "larangan" dan tidak mengikuti "petunjuk", juga akan berpeluang menyesatkan. Biasanya, yang berwarna hijau adalah petunjuk, dan yang berwarna merah adalah larangan. Kadang-kadang, ada juga yang berwarna kuning sebagai tanda peringatan.

Lampu merah diterabas, akan menggagalkan. Lampu hijau diikuti, cenderung mengantarkan kita ke tujuan. Melakukan assessment untuk yang berwarna kuning, adalah "risk management". Dan kita tahu, bahwa lampu merah kadang sebentar dan kadang lama, dan lampu hijau demikian pula, kadang lama kadang sebentar. Lampu kuning, kadang malah tak jelas dengan sekedar berkedip-kedip. Kegagalan kita alami, karena kita tidak mengikuti rambu-rambu kehidupan.

Maka perhatikanlah, keterampilan kita untuk menari-nari hanya di sekitar tiga kebijaksanaan ini saja, cenderung memperbesar peluang keberhasilan kita. Gagal lagi? Kembali saja ke kebijaksanaan nomor 1 atau nomor 2. Masih gagal juga? Bergeraklah lagi di dalam keyakinan nomor 3 dan nomor 2, atau nomor 3 dan nomor 1. Masih gagal juga? Jangan menyerah, bergeraklah lagi sambil menyelami keyakinan nomor 2 dan nomor 1, atau nomor 2 dan nomor 3.

Masih gagal pula? Ayo kita tetap yakin dan melakukan googling dengan kata-kata ini: "quotes on failure". Ratusan atau bahkan ribuan yang akan kita temukan. Semua itu adalah ungkapan dari mereka yang pernah gagal dan akhirnya berhasil. Ada Thomas Alva Edison bicara. Ada Abraham Lincoln angkat suara. Dan masih banyak lagi yang lainnya...

Anyway, sebagian koleksi saya satukan di sini - http://goo.gl/4F9pG

Bayangkan, kita semakin pandai menari dan kita semakin mampu memupuk kompetensi. Sebab kita mulai mengerti, bahwa kebijaksanaan dan keyakinan hanya bisa diperkuat, dengan tindakan. Ooohh... betapa makin besarnya peluang keberhasilan kita, dengan menumbuhkan diri makin dewasa dan makin bijaksana, dalam segala tempaan kegagalan.

Sudah habis kita ganyang satu per satu segala kebijaksanaan dan mulai lelah? Mari kita beristirahat secukupnya, sambil menikmati lagu D'masiv yang satu itu, lalu memulai lagi dengan kembali ke kebijaksanaan nomor 1. Teruslah... lanjutkanlah... lanjutkan dengan kebijaksanaan 101, atau 2130, atau kebijaksanaan nomor 7500455.

Keep dancing!

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Penulis Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"
Posted on Minggu, Maret 27, 2011 / 0 comments / Pembicara Motivator >>

Sabtu, Maret 26, 2011

Kegagalan Adalah Kompetensi



"Kegagalan adalah pencapaian, hasil dari seperangkat kompetensi yang kita latih setiap hari."
(Ikhwan Sopa)

Kita sering sekali sulit menerima kegagalan. Kita sedih jika kita gagal. Biasanya, kita langsung mencari "sesuatu" atau "seseorang" untuk disalahkan. Pada akhirnya, telunjuk yang menuding itu akan mengarah ke diri kita sendiri. Kegagalan sering membuat kita frustrasi.

Setiap kegagalan, adalah sebuah hasil pencapaian, dari serangkaian proses yang kita bangun sendiri. Kita membangun semua proses itu, dengan mengerahkan segala keahlian yang kita sendiri tidak menyadarinya. Keahlian itu, adalah keahlian untuk menjadi gagal.

Di satu sisi,

"Gagal hanya ada jika kita berhenti."

Di sisi yang lain,

"Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results."
Albert Einsten

Maka mengulangi lagi dan lagi, dengan hanya sekedar mengulangi saja, sama artinya dengan mengeksekusi kembali segala keahlian dan kemampuan kita untuk mencapai hasil yang sama, yaitu kegagalan. Kita perlu merubah keahlian dan kemampuan ini.

Kita sering tak menyadari, manakala kita terjebak pada fenomena "self fulfilling prophecy" alias prediksi yang terpenuhi dengan sendirinya.

Di sisi yang baik, kita mengenal "pygmalion effect" atau "rosenthal effect", di mana sebentuk pujian, semakin menguatkan perilaku yang dipuji. Kita juga mengenal "placebo effect", di mana suatu masukan, menjadi kebenaran karena pengaruh keyakinan dan kepercayaan.

Di sisi yang buruk, terjadi pula proses yang sama. Di antaranya, ya "self fulfilling prophecy" itu tadi, yang dalam hal ini adalah prediksi buruk yang menjadi kenyataan.

"Waduh... bakal gagal neh."
"Alah... saya mah emang nggak becus."
"Aku ini emang nggak cocok jadi pengusaha."


Dalam berbagai literatur, ungkapan-ungkapan di atas dianggap mencerminkan sebentuk "cetak biru" bagi pribadi. Menunjukkan sebentuk cara pandang tentang diri sendiri. Ketika cara pandang ini telah diterima sebagai keyakinan, karena terus-menerus disuntikkan ke dalam pikiran, ia akan merembes menjadi "cetak biru" yang dianggap benar.

Cetak biru ini, oleh para pakar sering disebut sebagai "self image". Mereka meyakini, bahwa setiap orang, dengan apapun yang menjadi sikap, perilaku, dan keputusannya, tak akan bergerak jauh dari "cetak biru" ini.

Sejak ia dianggap benar, maka segala sikap dan perilaku, akan bergerak berdasarkan inspirasi itu. Kita tak boleh lupa, bahwa kita adalah makhluk inspirasi dan makhluk aspirasi. Kita selalu cenderung mengambil referensi dari dalam diri sendiri - sekalipun itu adalah hasil cetakan dari luar diri, untuk kemudian mengejawantahkannya keluar, ke dalam kehidupan pribadi.

"Self fulfilling prophecy" bekerja dengan "positive feedback", yaitu bentuk respon ke dalam diri sendiri, di mana respon itu akan menyediakan umpan balik, bagaimanapun status dari suatu keadaan, baik benar maupun salah.

Saya jadi ingat, di dunia auditing dan akuntansi ada model konfirmasi positif dan konfirmasi negatif (saya seorang akuntan - register D-16804). Konfirmasi positif adalah sebentuk konfirmasi yang disampaikan, baik ada atau tidak ada penyimpangan. Konfirmasi negatif adalah sebentuk konfirmasi yang disampaikan, hanya jika ada ketidakcocokan.

Uniknya, dalam hal "self fulfilling prophecy" setiap feedback (positive mode) akan diacu kepada sesuatu yang dianggap benar sedari awal ("cetak biru"), dan bahkan, dengan kekuatan emosional menjadi "dibenarkan", karena kita ingin bahwa itu benar. Sekalipun, feedback itu menyatakan "something is wrong". (Kalo nggak mudeng nggak usah dibahas, lanjut aja langsung ke bawah... ane juga mumet)

Berikut ini adalah dua poin yang punya peran, dalam menciptakan "cetak biru" bagi diri sendiri. Inilah sebagian, dari sekian banyak hal, yang telah "membantu" seseorang dalam merumuskan jati dirinya dengan salah arah, inilah yang telah "membantu" seseorang dalam membangun "kompetensi kegagalan".

1. Labelling atau Atribusi

Ini terjadi, ketika seseorang telah secara sadar atau tidak sadar, menyalahgunakan kemampuan pikirannya yang sangat khas, yaitu "generalisasi". Jika sedari kecil seseorang sering mendapatkan labeling buruk yang disertai dengan kata-kata "pemastian", misalnya "dasar", "memang" atau kata-kata yang secara langsung mengacu kepada jati diri seperi "kamu ini", atau bahkan kombinasi dari semua itu sekaligus, maka proses "generalisasi" langsung mengambil peran. Pelan tapi pasti, cetak biru ini terbentuk dan terbawa hingga dewasa.

"Dasar anak nakal!"
"Memang kamu ini nggak bisa apa-apa!"
"Kamu ini bener-bener guoblok!"


Waktu akan memastikan, hingga pikrian dan perasaan sang obyek penderita dari kalimat-kalimat itu menjadi kelelahan, dan kemudian menerima dan membiarkannya menjadi bagian dari kehidupan dan menjadi bagian dari jati diri. Lambat-laun, kalimat-kalimat itu akan bergaung dan menggema di seluruh ruang hatinya.

"Ya!"

Hanya dua huruf itu saja yang diperlukan, untuk mengaktivasi keterampilan menuju kegagalan. Sebab hati adalah panglima, dan pikiran adalah komandannya. Sementara perasaan, hanya ingin ketenangan. Apalagi yang bisa dilakukan kecuali meneriakkan dua huruf itu kuat dan kencang di dalam hati? Mereka toh orang tua saya yang harus saya hormati? Saya kan masih tinggal dan menggantungkan hidup saya pada mereka? Bukankah hanya mereka orang-orang yang penting dalam hidup saya? "Ya! Saya memang begitu."

Ketika dewasa dan sangat ingin mengatakan "tidak", semuanya telah terlambat. Sangat terlambat.

Sambil terus menyesali diri, ia yang menjadi korban benar-benar menempatkan dirinya sebagai korban. Di sela-sela kesedihan, ia berontak sekuat tenaga dan berusaha melawan. Ia masuk pada jebakan berikutnya.

2. Harus, Mesti, Pokoknya

Kesadarannya yang telah dewasa mengatakan pada dirinya, "Aku tak bisa terus begini! Aku adalah juara!"

Kemudian ia melanjutkan,

"Aku harus..."
"Aku mesti..."
"Pokoknya aku mau..."


Ia lupa, memaksakan diri untuk semua itu, justru menjebaknya sekali lagi. Ia membebani dirinya terlalu jauh, dan ia meletakkan beban terlalu berat di pundaknya. Ia langsung "menembak" tanpa lebih dahulu "membidik". Titik targetnya, adalah dirinya sendiri. Ia telah menguatkan kemampuannya - untuk gagal sekali lagi.

Ia lupa, bahwa langkah pertama yang diperlukannya adalah belajar menyukai diri sendiri - http://goo.gl/nFGzd. Dan ini, hanya bisa dilakukannya dengan menelusuri kembali "draft awal" dari "cetak biru"-nya. Sebab, "cetak biru" itu sudah terlanjur menjadi acuan.

Kalimat-kalimatnya yang dipengaruhi "draft awal" itu sebenarnya berbunyi begini,

"Aku harus..., jika tidak maka..."
"Aku mesti..., jika tidak maka..."
"Pokoknya aku mau..., jika tidak maka..."


Apapun kata dan kalimat setelah kata "maka" adalah bibit-bibit bagi "self fulfilling prophecy"-nya. Dengan cetak biru yang sudah dianggap "benar", segala sikap, perilaku, dan tindakan, akan mengarahkannya menuju realisasi dari segala yang mengikuti "maka" itu.

Ia perlu bekerja dua kali, tantangannya lebih besar lagi. Ia perlu melakukan re-imprint untuk "cetak biru"-nya sekali lagi, dan kini dengan sikap penerimaan diri yang lebih baik dan tak diwarnai dengan kemarahan. Ia perlu melakukan review dan koreksi. Ia perlu melakukan introspeksi sekali lagi dengan sungguh-sungguh mencintai diri sendiri dan memaafkan kesalahannya sendiri. Ia perlu melakukan "re-definisi" diri.

Langkah pertama yang dapat dilakukannya, adalah mengurusi huruf pertama dari F.A.I.L.U.R.E., yaitu "f" alias frustrasi.

Sedikit frustrasi memang baik bagi siapa saja, sebab setiap tindakan dan perbuatan kita memang tak pernah lebih baik dari yang kita niatkan. Sedikit-sedikit frustrasi, adalah tanda-tanda sakitnya. Akar dari penyakitnya ada dua atau kedua-duanya yaitu:

1. Tujuannya kurang realistis, karena dirinya belum siap, atau
2. Telah terjadi "salah pengembangan diri", atau kedua-duanya.

Ia perlu menyederhanakan cita-citanya, menjadi lebih realistis sesuai dengan keadaan dirinya. Pada saat yang sama, ia perlu berlatih menyukai dirinya sendiri berbarengan dengan upaya mengembangkan dirinya hingga menggeser keahlian dan kemampuan; dari gagal yang otomatis menjadi berhasil yang otomatis.

Jika ini tidak dilakukan, maka terjadilah apa yang sering kita temukan dalam keseharian, yaitu orang-orang yang tersiksa oleh cita-citanya sendiri. Stress, atau bunuh diri. Naudzubillahi min dzaalik!

Mari kita berhitung, seberapa sering kita frustrasi? Jangan-jangan bukan karena kita tidak pandai melakukan sesuatu, tapi karena kita lupa memandaikan auditing diri.

Semoga bermanfaat.

Artikel Serial Kegagalan:
Ilmu Tentang Kegagalan
Sebab Utama Kegagalan
Meneladani Kegagalan
Mungkin Bukan Takut Gagal Tapi Takut Berhasil
Lima Hal Penting Dari Kegagalan

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Pembicara Motivasi - Motivator Pengembangan Diri
Posted on Sabtu, Maret 26, 2011 / 0 comments / Pembicara Motivator >>

Jumat, Maret 25, 2011

Bagaimana Menyukai Diri Sendiri


“Happiness is: Looking in a mirror and like what you see .”
(Unknown)

“To love oneself is the beginning of a life-long romance.”
Oscar Wilde

"Jika engkau tak menyukai dirimu sendiri, engkau tak menyukai ciptaan Tuhan."
Ikhwan Sopa

Menyukai diri sendiri adalah kekuatan dasar. Rasa ingin diterima di dalam lingkungan dan kehidupan sosial adalah keinginan dasar. Keinginan itu adalah fungsi sosial dari jati diri kita yang selain sebagai makhluk individu, adalah juga makhluk sosial. Memiliki kemampuan untuk disukai oleh orang lain, adalah satu dari tiga unsur pembangun kredibilitas. Bagaimana orang lain bisa menyukai kita, jika kita tak menyukai diri sendiri?

Jadilah diri sendiri, dan jadilah diri yang engkau inginkan. Diri yang engkau inginkan adalah diri yang engkau menyukainya, dan orang lain juga menyukainya. Seperti inilah seimbangnya kehidupan. Kita bisa bermimpi sendirian, mencapainya tidak. Kita memerlukan keharmonisan hubungan dengan orang lain. Orang cenderung menyukai, seseorang yang menyukai dirinya sendiri.

Terimalah diri sebagaimana adanya. Segala yang engkau anggap belum sesuai dengan keinginan tentang dirimu, adalah wahana pembelajaran di dalam kehidupan. Semua itu adalah kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri. Terimalah diri, yang keinginan dasarnya adalah untuk tumbuh, berkembang, dan berubah menuju diri impian.

Keinginan untuk tetap diam dan tak melakukan perbaikan, adalah salah satu tanda bahwa engkau masih kurang menyukai dirimu sendiri. Kita semua lahir sempurna sekalipun membawa kekurangan fisik. Kita semua lahir dengan kekurangan pengetahuan. Dunia nyata telah membuat kita "cacat" dengan segala pengetahuan yang tidak sempurna, yang kita terima di sepanjang hidup kita.

Orang tua yang tak sempurna, guru yang tak sempurna, sekolah yang tak sempurna, lingkungan yang tak sempurna, saudara yang tak sempurna, teman yang tak sempurna, bangsa dan negara yang tak sempurna, adalah bukti nyatanya. Hidup adalah kesempatan untuk meraih pengetahuan dan kebijaksanaan, untuk menempa pengalaman, dan untuk menyesuaikan diri dengan semua itu. Perjalanan kita adalah untuk menuju kepada Tuhan.

Jika engkau merasa bosan, itu tanda bahwa kemampuanmu perlu tantangan dan ujian yang lebih tinggi. Tunggulah ia datang, atau engkau ciptakan sendiri. Jika engkau merasa cemas, itu tanda bahwa engkau perlu lebih banyak belajar, menimba pengetahuan, dan melatih kemampuan. Carilah kesempatan, dan manfaatkan jika ia datang.

Sukailah hal-hal baru, engkau akan terkejut menyaksikan bagaimana dirimu mampu beradaptasi dengan semua itu. Sudah alamiah, engkau menyukai baju dan celana baru. Engkau menyukai handphone baru, komputer baru, mobil baru, atau rumah baru. Sukailah juga, pekerjaan dan tantangan baru.

Biasakan dirimu menginventarisir tiga sampai lima hal dari dirimu yang engkau sukai. Biasanya, orang lain juga menyukainya. Rata-rata kita, enggan melakukan ini, karena beranggapan bahwa kita telah menjadi sombong. Sama sekali tidak, sebab ini adalah tentang penemuan jati diri.

Biasakanlah dirimu menginventarisir tiga sampai lima hal dari dirimu, yang menurutmu membuat orang lain mempercayaimu. Sekali lagi, ini bukan tentang kesombongan, melainkan tentang menemukan jati diri.

Jangan lupa, disadari atau tidak disadari, kita justru sering melakukan yang sebaliknya. Ketika malam tiba, menjelang tidur engkau berhitung lagi, tentang segala kekurangan dan kejelekan dirimu, bukankah ini yang lebih sering terjadi?

Jika engkau memiliki kestabilan di dalam, maka engkau akan lebih stabil menjalani rollercoaster emosimu. Engkau tidak akan menjadi diri yang mensabotase kehidupannya sendiri.

Menyukai dirimu sendiri, cenderung membuatmu makin rileks. Rileks adalah puncak performa. Tak ada mereka yang besar dan berhasil, dengan membawa diri yang panik atau membenci diri sendiri. Orang lebih menyukai mereka yang berpenampilan rileks dan tenang.

Biasakan kecenderungan melakukan segala sesuatu yang "benar" dan bukan sekedar yang engkau "sukai". Bentuk rasa suka yang paling sah adalah menyukai diri sendiri. Dengan begini, engkau akan lebih mudah menyukai orang lain.

Latihlah kemampuan untuk menghentikan melakukan apa-apa yang engkau anggap salah. Engkau akan semakin menyukai dirimu sendiri, ketika engkau berhasil melakukannya.

Batalkan rasa bersalahmu atas masa lalu. Maafkan kesalahanmu di masa lalu. Segala perbaikan dan perubahan, hanya bisa engkau lakukan sekarang. Memulainya, adalah dengan menerima diri dan menyukainya.

Hentikan kebiasaan mengkritisi diri sendiri. Ubah sikapmu dari mempertanyakan menjadi pertanyaan. Ubah pertanyaanmu dari "mengapa" menjadi "bagaimana". Yang pertama mencari penyebab huru-hara, yang kedua menuju solusi yang nyata.

Rayakan keberhasilanmu, sekecil apapun itu. Biasakan bersyukur setidaknya dengan pernyataan memuji Tuhan.

Hargai impianmu dengan upaya menciptakannya di dunia nyata.

Ketika engkau melihat keindahan, temukanlah cerminannya dalam dirimu.

Gunakan bahasa-bahasa, yang akrab emosi dengan dirimu sendiri. Jangan gunakan sumpah dan serapahmu.

"Wataaaawww! Kok aku begini ya?"
"Apa lagi neh, nyang ane perlu kerjain?"
"Prikitieew! Ane salah lagi...!"

Semakin engkau menyukai dirimu sendiri, semakin engkau bisa mempercayainya.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Penulis Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"
Posted on Jumat, Maret 25, 2011 / 0 comments / Pembicara Motivator >>

Rabu, Maret 23, 2011

Creative Visualization


"Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there ever will be to know and understand."
Albert Einstein

"Imajinasi kita nyaris tak terbatas, tapi kapasitas yang menampungnya selalu jauh lebih luas."
Ikhwan Sopa

Ini adalah ilmu tentang mengkhayal. Banyak orang beranggapan, bahwa visualisasi hanya terkait dan terhubung dengan hypnotherapy, dengan seni, arsitektur dan disain, dengan dunia teknis semata, atau bahkan dengan The Law Of Attraction. Padahal, visualisasi adalah tentang kehidupan sehari-hari, bahkan lebih dari itu, visualisasi adalah tentang jati diri.

Ketika kita ditanya tentang siapa kita, yang muncul adalah gambaran-gambaran. Siapa diri kita adalah tentang bagaimana kita menggambarkan diri kita secara visual, sebab itu memang begitulah cara yang paling mudah. Maka disadari atau tidak, menjawab pertanyaan itu pastilah kita lakukan dengan visualisasi.

Hidup sehari-hari dipenuhi dengan visualisasi.

Mencari tempat untuk lokasi usaha, adalah tentang visualisasi. Sekalipun ujungnya adalah keuntungan, apa yang kita lakukan adalah membayangkan bagaimana bisnis itu nanti beroperasi. Ini melibatkan visualisasi.

Berpikir keras untuk memilih akan bersekolah ke sekolah yang kita inginkan, juga melibatkan visualisasi. Kepentingan kita adalah potensi dan kemungkinan keberhasilan, namun demikian, dengan visualisasilah kita melakukannya.

Memilih pakaian di toko, juga kita lakukan dengan visualisasi, apakah dengan membayangkan, atau dengan bercermin di kamar pas.

Menentukan lay out kantor atau instalasi mesin, juga melibatkan visualisasi. Kepentingan kita mungkin efektifitas dan efisiensi, tapi melakukannya juga dengan visualisasi.

Menyelesaikan masalah dan persoalan, mengaitkan poin yang satu dengan poin yang lain, juga kita lakukan dengan visualisasi. Apakah itu persoalan teknis dan matematis, maupun persoalan kehidupan dan bahkan cinta.

Visualisasi selalu kita lakukan, sebab setiap saat kita menggunakan mata. Bagi mereka yang buta, visualisasi bahkan menjadi salah satu cara kerja utama.

Ketika kita tidur dan bermimpi, itu juga sebentuk visualisasi. Visualisasi adalah bagian dari kehidupan.

Mencapai cita-cita begitu juga.

Apakah kita telah jelas bisa melihat di mana tujuan kita, ataukah kita masih meraba-raba dalam kegelapan untuk menemukan tujuan, kita melakukannya dengan visualisasi.

Sejauh ini, kita telah dimanjakan oleh kerja mata, dan tak pernah secara sengaja melatih keterampilan mata, khususnya mata mental. Kita hanya mengatakan, bahwa layar Blackberry kita bagus. Kita cuma bilang, bahwa warna baju pasangan kita ceria. Kita hanya berujar, bahwa tujuan dari suatu kebijakan masih samar-samar.

Kita telah berterimakasih dan bersyukur atas manfaatnya. Kita lupa, bahwa kita belum berterimakasih dan bersyukur dengan mengoptimalkan pemanfaatannya.

Visualisasi adalah inspirasi dari Tuhan sendiri. Tak satupun dari kita pernah ke surga atau ke neraka. Bagaimana kita memahami dan memaknainya? Dengan visualisasi. Dari mana bahan visualisasinya? Dari Tuhan sendiri lewat kitab suci dan sabda nabi. Tengoklah kembali ke dalam kitab suci dan sabda nabi, lalu temukanlah gambaran detil tentang surga dan neraka.

Mari kita perhatikan, dan mari kita berhitung.

Biasanya, kita mampu menghindari visualisasi negatif akibat mata fisik yang terlanjur melihat fenomena buruk. Maka mata fisik kita, telah cukup terlatih untuk mampu melakukan berbagai kebaikan dan kepantasan. Bagaimana dengan mata mental kita? Lebih banyak mana, visualisasi negatifkah, atau visualisasi positifkah, yang berseliweran setiap saat di kepala kita?

Apa yang kita bayangkan, ketika mengingat bahwa besok harus menghadap Pak Kepala?
Apa yang kita visualisasikan, saat mengetahui ada sejumlah persoalan mesti kita selesaikan?
Apa yang kita gambarkan, saat menyiapkan diri untuk besok berpresentasi?
Apa yang kita visualisasikan, saat sebuah penugasan datang menghampiri?

Jika kita memang sudah sangat terlatih secara mental memvisualisasikan berbagai hal yang kita khawatirkan dan kita takutkan, mengapakah kita tak secara sadar melatih kemampuan dalam memvisualisasikan berbagai keberhasilan?

Selagi kita masih menggunakan mata, maka kita masih akan tetap memvisualisasikan. Selagi kita masih diberi kemampuan untuk melihat "keluar", maka kita dipastikan akan tetap mampu melihat ke "dalam". Jika melihat "keluar" sudah kita latih hingga terbiasa hanya melihat yang indah dan baik, mengapakah kita tak berlatih juga untuk melihat ke "dalam" hingga terbiasa melihat yang indah dan baik pula?

Ingat ini: "Segala sesuatu diciptakan dua kali."

Penciptaan di kali yang pertama adanya di "dalam" alias di pikiran. Bentuknya adalah visualisasi. Komputer ini mulai diciptakan dari kemauan dan keinginan produsennya. Menjadi visualisasi di dalam pikiran. Kemudian, dituangkan menjadi visualisasi dalam bentuk disain di meja gambar. Begitulah prosesnya, hingga menjadi sebentuk manifestasi di dunia nyata. Rumah kita begitu juga. Mobil kita begitu pula. Seperti itulah juga adanya tentang meja, kursi, kulkas, dan apapun benda yang bisa dilihat dengan mata.

Jika kita adalah arsitek bagi kehidupan, maka kehidupan seperti apa yang kita visualisasikan? Jangan katakan ini cuma mengkhayal, ini adalah proses penciptaan. Penciptaan kehidupan.

Ungkapan di atas tidak muncul sembarangan, melainkan telah menjadi keyakinan bagi mereka yang telah banyak berpengaruh dan memberi warna di dunia, seperti John Assaraf, Richard Branson, Mark Zuckerberg, Bill Gates, Jack Canfield, atau Steve Jobs (yang terakhir ini bahkan visual banget bukan?)

Berikut ini adalah dasar-dasar untuk melatih kemampuan visualisasi. Sebagian besar bahan saya ambilkan dari materi David Mason Ph.D.

(Menurut Psycho-Cybernetics, Maxwell Maltz M.D., FICS, pakar bedah plastik, yang memperkaya dunia psikologi lewat "self image", kemampuan ini adalah satu dari dua kemampuan otomasi diri untuk mencapai keberhasilan. Latihan visualisasi adalah bagian dari proses otomasi kehidupan, yang merupakan versi "recognize" dari pasangan tak terpisahkan "recognize and discover". "Discovery" adalah otomasi kehidupan untuk sesuatu yang belum kita ketahui tapi kita inginkan. Intinya ada pada otomasi "keyakinan". "Recognize" adalah otomasi kehidupan, untuk sesuatu yang makin jelas dan makin jelas kita pahami dan kita inginkan. Intinya ada pada otomasi "inderawi". Lebih lanjut silahkan tanya Pak Yan Nurindra, Master Practitioner of "Tuyulism", he...he...he...).

1. Kendala Umum Visualisasi

Banyak orang malas, atau bahkan takut melakukan visualisasi. Mereka merasa visualisasi tak banyak gunanya, karena berpikir bahwa semua ini cuma mengkhayal. Padahal, nyaris segala bentuk pikiran pesimistik adalah visualisasi, dan untuk yang satu ini, setiap orang memang tak perlu melatihnya, sebab rata-rata kita telah terlatih memvisualisasikan berbagai bentuk fenomena negatif, disadari atau tidak disadari. Apa yang perlu kita lakukan, adalah melatih visualisasi positif sebagai upaya untuk menciptakan keseimbangan di dalam kehidupan. Masuk akal bukan?

Bagi mereka yang takut bervisualisasi, Shakti Gawain dalam "Creative Visualization" menyebutkan, bahwa apapun yang kita khawatirkan, jika divisualisasikan dengan benar, maka intensitas dari apapun yang kita khawatirkan itu akan berkurang. Apa yang dimaksudkan dengan "visualisasi yang benar", adalah menggeser visualisasi itu sendiri. Ketakutan dan kekhawatiran, akan tinggal menetap dan menjadi bagian dari diri jika visual dari semua itu tak diubah menjadi lebih baik.

Dalam hal kita belum terbiasa menggeser visualisasi internal tentang berbagai hal yang tidak kita inginkan, kita bisa melatih diri dengan cara berikut ini.

2. Latihan Visualisasi "Keluar".

Fokuskanlah mata kita pada sesuatu yang ada di sekitar kita, di luar diri kita. Lalu lekatkanlah setidaknya satu panca indera yang lain untuk ikut bersama-sama menikmati obyek itu bersama-sama dengan mata. Ketika setidaknya dua panca indera terfokuskan pada sesuatu, maka pikiran kita akan cenderung terkunci pada sesuatu itu. Fenomena ini, akan membuat pikiran kita menjadi makin kaya akan berbagai makna tentang sesuatu itu. Latihan visualisasi keluar ini, bersifat netral, sebab Anda secara otomatis akan memilih obyek yang baik atau menyenangkan.

3. Contoh Visualisasi Sederhana

- Visualisasi "Jeruk Nipis" (Anda pasti tahu yang satu ini)

4. Contoh Visualisasi Paling Sederhana

- Visualisasi "Bendera Melambai" (motion picture visualization)
- Visualisasi "Refleksi Benda Di Atas Alas Berkilau" (still picture visualization)

5. Contoh Visualisasi Lanjutan

- Visualisasi Memori Dan Kejadian

Piculah memori Anda, dengan mendengarkan sebuah lagu nostalgia. Masukilah kembali pengalaman Anda. Lagu, adalah salah satu cara terbaik untuk mendatangkan kembali memori dari suatu kejadian di masa lalu.

- Visualisasi Jendela

Ini adalah latihan visualisasi secara dis-asosiatif, yaitu melihat diri sendiri sebagai "pemeran utama" dalam sebuah kejadian yang dikonstruksi atau memori dari masa lalu. Ini seperti menonton sebuah film di mana kita ada dan beradegan di dalamnya.

- Visualisasi Pertumbuhan

Ini adalah latihan visualisasi untuk "mengkreasi" pergeseran atau penciptaan. Inilah inti dari creative visualization alias visualisasi kreasi. Visualisasi jenis inilah yang nantinya kita kembangkan menjadi separuh dari otomasi kehidupan dan pencapaian tujuan. Ada tiga cara yang cukup sederhana:

Pertama, visualisasikan sesuatu yang tumbuh seperti sepucuk tanaman atau seekor hewan peliharaan. Visualisasikan bagaimana ia tumbuh dan menjadi besar secara bertahap.

Kedua, visualisasikan diri Anda sedang berada di sebuah arena balapan. Anda berlari, atau memacu kendaraan. Visualisasikan bagaimana Anda berlomba. Separuh dari kehidupan, adalah perlombaan, khususnya dengan diri sendiri.

Ketiga, ingatlah lagi bagaimana Anda tumbuh dari anak kecil, mungkin dari sebuah kampung, mengikuti berbagai proses kehidupan, hingga menjadi diri Anda yang hari ini dengan segala fenomenanya. Jika Anda telah sampai ke titik sekarang, lanjutkan visualisasi Anda ke masa depan, setahun, tiga tahun, lima tahun, atau sepuluh tahun lagi dari sekarang. Siapa Anda? Seperti apa Anda jadinya?

6. Visualisasi Berdasarkan Fungsi

- Focused Visualization

Digunakan untuk memvisualisasikan suatu hasil akhir atau sebuah tujuan yang statik, yaitu kondisi akhir yang diinginkan setelah melewati serangkaian proses. Jika dalam karir Anda menginginkan posisi manajer, visualisasikan seperti apa Anda dan bagaimana Anda jika telah duduk di kursi manajer itu. Visualisasi ini sering dibarengi dengan teknik "afirmasi".

- Retrospective Visualization

Digunakan untuk melakukan trace back ke berbagai proses dan kejadian di dalam kehidupan, supaya bisa dilanjutkan dengan visualisasi ke masa depan. Trace back ini diperlukan, supaya seseorang tetap sesuai dengan jalur yang telah dipilihnya, sebab bukan tidak mungkin, dirinya akan menemukan bahwa ia sebenarnya telah salah jalan atau telah tersesat di perjalanan. Visualisasi ini bermanfaat untuk menggali potensi koreksi dan perbaikan kehidupan.

- Rehearsal Visualization

Visualisai ini biasa juga diistilahkan dengan "sport visualization", yaitu visualisasi untuk melatih sebuah situasi di masa depan. Dalam NLP, visualisasi ini mirip dengan "future pacing" atau visualisasi dalam teknik "new behaviour generator" atau NBG. Para olahragawan dan para pembicara, sering menggunakan visualisasi jenis ini sebelum mereka tampil, khususnya ketika mereka menginginkan perbaikan atau perubahan perilaku saat tampil ke depan.

- Fantasy Visualization

Digunakan jika seseorang ingin menggeser atau sejenak melupakan perasaan atau situasi mood yang tidak mengenakkan. Visualisasi ini sering disertai dengan teknik "reframing" pikiran dan makna-makna. Visualisasi ini sering digunakan dalam "anger management". Atau, ketika seseorang berkhayal tentang sesuatu yang menyenangkan.

- Protective Visualization

Digunakan untuk menciptakan "dampak perlindungan", dengan sebentuk perilaku yang telah dilatih secara mental sebelumnya. Ini bisa digunakan untuk menghandle perilaku "bullying" dari orang lain, atau untuk menekan dampak emosional dari kondisi emosional orang lain, atau untuk melindungi diri dari sikap dan perilaku diri sendiri yang tidak menguntungkan.

- Pain Control Visualization

Digunakan untuk mengurangi rasa sakit dengan memvisualkan rasa sakit itu, lalu menggeser visualisasi itu menjadi lebih enak atau lebih ringan. Misalnya, migrain yang divisualkan sebagai "awan hitam", lalu digeser secara bertahap menjadi "awan kelabu", lalu menjadi "awan yang putih cemerlang" (try this, it's work!).

Dasar dari model visualisasi ini sebenarnya juga sederhana. Jika Anda sakit kepala, mana sih sakit kepala itu? Adakah bendanya? Kepala Anda ada, tapi sakit kepala Anda tidak ada, yang "ada" adalah rasa sakitnya. Jika rasa sakit itu "ada", maka benarkah "tidak ada rasa sakit" itu "tidak ada"? "Tidak ada rasa", adalah juga sebuah rasa!

Pertanyaannya, apakah "rasa" itu ada? Bisakah ia dipegang atau dibanting sebagaimana sebuah benda? Itu sebabnya untuk "ditiadakan", ia lebih dahulu harus "diadakan" - dengan visualisasi.

- Visualisasi Kombinasi

Digunakan misalnya, ketika seorang mahasiswa akan menghadapi ujian sidang akhir. Ia perlu memvisualisasikan hasil akhir berupa keberhasilan, dan sekaligus ia perlu memvisualisasikan proteksi diri dari pertanyaan yang menyerang dan menyudutkan. Atau, dapat digunakan oleh pengacara, pembela, atau hakim di pengadilan. Atau, digunakan oleh para negosiator dan persuader bisnis.

- Lucid Dreaming Visualization

Ini adalah sebentuk visualisasi yang unik, di mana seseorang bisa men-drive dan mengendalikan mimpinya. Ia tidur dan bermimpi, akan tetapi ia cukup sadar untuk bisa mengendalikan mimpinya. Saya pribadi, pernah beberapa kali dapat melakukannya. Saya sedang menelusuri bagaimana melakukannya secara sengaja. Waspadalah, kalo begadang dengan saya. Saya mungkin tidur mendengkur, tapi saya bisa mendengar dengan jelas percakapan orang-orang di sekitar saya... he...he...he... lagi latihan neh. Jangan tanya saya bagaimana melakukannya. Sejauh ini, saya cuma bisa bilang, terjadi begitu saja.

Lucid dreaming dianggap powerful, karena berhubungan langsung dengan tujuan akhir dari setiap visualisasi, yaitu imprint di bawah sadar.

- Visualisasi Metafisik

Ini adalah bentuk visualisasi yang digunakan untuk mengukur perkembangan kesadaran atau kebijaksanaan atau wisdom seseorang. Misalnya visualisasi "kundalini", "chakra", "shambala", atau "maqam" (lepas dari keberadaan fenomena "energinya"). Visualisasi ini erat hubungannya dengan spiritualisme, dan bahkan dengan fenomena ritualnya. Visualisasi jenis ini, hanya disarankan bagi mereka yang mengerti duduk perkaranya. Jika kurang paham, lebih baik kembali ke ajaran agama yang lebih diterima dan lebih dibenarkan. Bagi agama tertentu, mempraktekkan visualisasi ini, bisa berbahaya bagi keyakinan. (Untuk yang ini, silahkan bertanya lagi pada Pak Yan Nurindra atau Mas Agung Webe, he...he...he... mereka pakarnya).

7. Visualisasi Yang Berhasil

Sebuah visualisasi dianggap berhasil, jika ia bisa menciptakan dampak lanjutan yang disebut dengan "inspired action". Setiap proses visualisasi, akan meningkat levelnya menjadi "vivid imagery", hanya jika disertai dengan aktivasi keseluruhan panca indera yang bersentuhan dengan "realitas luar". Vivid imagery-lah, yang akan menjadi bibit-bibit manifestasi, sebab ia telah menjadi cetak biru bagi kehidupan, sebab ia telah diterima menjadi bagian dari diri dan kehidupan. Jadi, tak ada gunanya berkhayal atau bervisualisasi, jika tetap tinggal di alam mimpi. Anda tetap harus do something!

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Penulis Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"
Posted on Rabu, Maret 23, 2011 / 0 comments / Pembicara Motivator >>

Kamis, Maret 17, 2011

Mencapai Cita-Cita Perlu Rindu Dan Cinta

Training - Workshop E.D.A.N. - Angkatan 77
Sabtu-Minggu, 26-27 Maret 2011
Hotel Grand Kemang


Aku tahu, bahwa untuk mencapai cita-cita aku perlu mencintai dan merindukannya. Tapi, aku belum pernah bertemu dengannya. Aku sangat ingin mengunjungi cita-citaku itu, supaya aku makin cinta dan menjadi rindu hingga sangat ingin bertemu. Aku butuh belajar sebuah tarian, namanya "The Dances With Goals".

Info:
http://milis-bicara.blogspot.com/2010/06/communication-skill-mastery-training.html
Posted on Kamis, Maret 17, 2011 / 0 comments / Pembicara Motivator >>

Empat Bahasa Yang Memberhasilkan

Training - Workshop E.D.A.N. - Angkatan 77
Sabtu-Minggu, 26-27 Maret 2011
Hotel Grand Kemang


Para pakar kepribadian menemukan, ada manusia yang lebih paham bahasa "result", bahasa "narsis", bahasa "matematika", dan bahasa "cinta". Memahami bahasa-bahasa itu, pastilah menguntungkan pengembangan diri, karir, profesi, bisnis, dan kehidupan pribadiku bersama mereka yang aku cintai. Aku ingin hubungan yang makin baik dengan mereka.

Info:
http://milis-bicara.blogspot.com/2010/06/communication-skill-mastery-training.html
Posted on Kamis, Maret 17, 2011 / 0 comments / Pembicara Motivator >>

Mengelola Sisi Terang Dan Sisi Gelap Diri Sendiri

Training - Workshop E.D.A.N. - Angkatan 77
Sabtu-Minggu, 26-27 Maret 2011
Hotel Grand Kemang


Seperti juga orang lain, aku menyadari ada sisi terang dan sisi gelap dalam diriku. Sisi gelapku itu, ada yang sebenarnya sisi terang tapi aku tak sadar keberadaannya, ada pula yang memang nakal, dan bahkan ada yang ingin membunuh karakterku. Aku butuh memahami mereka lebih dalam, agar aku tak mensabotase diriku sendiri.

Info:
http://milis-bicara.blogspot.com/2010/06/communication-skill-mastery-training.html
Posted on Kamis, Maret 17, 2011 / 0 comments / Pembicara Motivator >>

Afirmasi Negatif Yang Paling Berbahaya

Training - Workshop E.D.A.N. - Angkatan 77
Sabtu-Minggu, 26-27 Maret 2011
Hotel Grand Kemang


Entah berapa kali dalam 24 jam, pertanyaan ragu-ragu ini berseliweran di kepalaku, "Duh... gimana ya kalo...?" Aku tahu, ini adalah afirmasi negatif yang berbahaya, karena memikirkannya saja sudah membuatku mengiyakannya. Aku tak ingin merusak kekuatanku sendiri. Aku ingin menjadi pribadi dengan pikiran dan perasaan yang selalu optimis.

Info:
http://milis-bicara.blogspot.com/2010/06/communication-skill-mastery-training.html
Posted on Kamis, Maret 17, 2011 / 0 comments / Pembicara Motivator >>

Ketika Seluruh Dunia Mengatakan "Tidak" Padaku

Training - Workshop E.D.A.N. - Angkatan 77
Sabtu-Minggu, 26-27 Maret 2011
Hotel Grand Kemang


Saat hidup ini membahagiakan, mudah buatku menjalani hari-hari. Saat datang waktu susah dan sulit, berat sekali bagiku hidup ini. Dunia seolah telah berubah menjadi lawan bagiku. Aku tak mau terus begini... Aku ingin tetap melangkah maju di hadapan tantangan dan kendala, apapun itu. Aku perlu belajar "The Art Of Hoo..."

Info:
http://milis-bicara.blogspot.com/2010/06/communication-skill-mastery-training.html
Posted on Kamis, Maret 17, 2011 / 0 comments / Pembicara Motivator >>

Hidup Adalah Belajar

Training - Workshop E.D.A.N. - Angkatan 77
Sabtu-Minggu, 26-27 Maret 2011
Hotel Grand Kemang


Kata orang hidup ini belajar. Dulu ketika kelas dua SD, aku pernah membuat definisi tentang apa itu "belajar". Definisi itu telah terlanjur menjadi salah satu keyakinanku hingga hari ini. Aku belum pernah memaknainya kembali. Jangan-jangan, keyakinan itulah yang terus kubawa menjalani karir, profesi, bisnis, dan hidupku, hingga hari ini.

Info:
http://milis-bicara.blogspot.com/2010/06/communication-skill-mastery-training.html
Posted on Kamis, Maret 17, 2011 / 0 comments / Pembicara Motivator >>

Obat Minder Untuk Siapa Saja

Training - Workshop E.D.A.N. - Angkatan 77
Sabtu-Minggu, 26-27 Maret 2011
Hotel Grand Kemang


Jika aku merasa minder di hadapan orang lain, aku sebenarnya sedang membanding-bandingkan diriku dengan mereka. Aku butuh cara, agar bisa menjadi pribadi tak terbandingkan dan tanpa tandingan. Mereka yang bijak mengatakan bahwa aku ini unik. Di mana uniknya? Bagaimana aku bisa meyakini keunikanku hingga menjadi kekuatan yang membesarkan?

Info:
http://milis-bicara.blogspot.com/2010/06/communication-skill-mastery-training.html
Posted on Kamis, Maret 17, 2011 / 0 comments / Pembicara Motivator >>

Percaya Diri Adalah "Sebab" Kesuksesan

Training - Workshop E.D.A.N. - Angkatan 77
Sabtu-Minggu, 26-27 Maret 2011
Hotel Grand Kemang


Selama ini aku tahu bahwa PD itu "AKIBAT" dari pencapaian. Makin berwenang, makin berkuasa, makin maju, makin kaya - maka aku makin PD. Dan PD itu, akhirnya bergeser menjadi "SEBAB" bagi pencapaianku berikutnya. Spiral yang makin membesar. Bagaimana aku bisa menjadikannya skill menuju keberhasilan demi keberhasilanku?

Info:
http://milis-bicara.blogspot.com/2010/06/communication-skill-mastery-training.html
Posted on Kamis, Maret 17, 2011 / 0 comments / Pembicara Motivator >>

Selasa, Maret 15, 2011

How To Motivate Your Staffs And Employees


Dear all, berikut ini saya sharing ekstraksi materi seminar dan training saya. Topiknya adalah "How To Motivate Your Staffs And Employees".

1. Kegagalan selalu didahului oleh sebuah tanda

Tanda itu adalah turunnya motivasi.

2. Tidak fokus

"Put the end in mind" - Stephen Covey. Jika mereka tidak tahu apa yang diinginkan, jangan-jangan mereka memang tidak menginginkannya.

3. Tidak atau kurang percaya diri

Jika mereka tidak percaya bisa berhasil, mencoba pun mereka tak akan melakukannya. Apalagi benar-benar dan sungguh-sungguh mengerjakannya.

4. Tidak terarah

Jika mereka tidak tahu dan tidak jelas apa yang perlu dilakukan, bagaimana mereka bisa termotivasi untuk melakukannya?

5. Motivasi itu:

Tentang "kebutuhan" (Abraham Maslow),
Tentang "sikap" (Mc Gregor X-Y),
Tentang "outcome" (Vroom),
Tentang "existence, relatedness, growth" (Clayton Alderfer),
Tentang "nAch, nAff, nPow" (Mc Lelland),
Tentang "sprint-marathon", "jangka pendek-jangka panjang", "internal-eksternal" (Frederick Herzberg)

Dibutuhkan "Tune Up Motivasi" - http://goo.gl/0606n

6. Semua itu ditujukan untuk menciptakan state "The Flow"

http://goo.gl/HMkz5

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Penulis Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"
Posted on Selasa, Maret 15, 2011 / 0 comments / Pembicara Motivator >>

Sabtu, Maret 12, 2011

Where Is The Fifth Awareness?


First step to awareness is to be aware of physical dynamics. Ketika suatu pagi aku berkaca, kulihat sudah banyak uban di kepala. Dia yang di dalam kaca bertanya, "Kaget ya? Hei! Kemana saja kamu selama ini?"

Second step to awareness is to be aware of mental dynamics. Ketika suatu saat kuberhasil diam dalam keheningan meski sedetik saja, dia yang di dalam hati bertanya, "Kaget ya? Hei! Bagaimana engkau membentuk dirimu menjadi manusia yang sekarang ini?"

Third step to awareness is to be aware of social dynamics. Ketika aku tiba di sebuah sudut, menyaksikan seliweran manusia di sekitar dengan segala kepentingannya, dia yang di hati lebih dalam bertanya, "Kaget ya? Hei! Apa saja yang telah kau lakukan untuk mereka. Orang-orang yang kau cintai, yang kau anggap saudara, yang kau sebut sesama manusia?"

Fourth step to awareness is to be aware of enlightenment dynamics. Ketika aku melayang begitu tinggi di atas dunia yang terus berputar hingga akhir zaman, dia yang di hati paling dalam bertanya, "Kaget ya? Hei! Bukankah setiap tarikan nafas di dalam kesadaranmu adalah dalam rangka penyembahan? Hamba Tuhan yang seperti apa yang telah engkau pilih sebagai jalan?"

Sixth step to awareness is to be aware of spiritual dynamics. Ketika aku merasa begitu kecil dan nyaris seperti tak ada di alam semesta ini, dia yang menjadi raja bagi hati bertanya, "Kaget ya? Hei! Bukankah semua cinta dan rindumu hanyalah untuk-Nya? Tak inginkah engkau bertemu kembali dengan-Nya?"

Seventh step to awareness is not to be aware of anything at all except one, "Laa Ilaaha Illallah". Ketika nafasku hampir terputus di kerongkongan, satu jiwa yang berasal dari-Nya bertanya, "Kaget ya? Heeei...!!! Kemana saja kamu selama ini? Sekarang... mampukah engkau mengucapkannya?"

Ups... Where is the fifth?!

In my whole life, i've been wandering around searching for it...

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Penulis Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"
Posted on Sabtu, Maret 12, 2011 / 0 comments / Pembicara Motivator >>

Buku Belajar Hypnosis Bahasa Indonesia (20+) - Gratis

Posted on Sabtu, Maret 12, 2011 / 0 comments / Pembicara Motivator >>

Kamis, Maret 10, 2011

Self Hypnosis - Manfaat Hypnosis Untuk Diri Sendiri


Hypnosis adalah bentuk komunikasi persuasif yang memanfaatkan fenomena trance.

Fenomena trance adalah fenomena normal dan alamiah, yang sebenarnya dialami oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari, yaitu fenomena di mana seseorang sedang sangat fokus pada sesuatu hingga tingkat ke-awas-annya terhadap hal lain di sekitarnya menjadi berkurang. Misalnya, ketika seseorang sedang menonton film, mendengar lagu, membaca novel, atau menyaksikan pertandingan sepak bola.

Di dalam hypnosis, fenomena trance diperkuat fokusnya begitu rupa, sehingga pikiran seseorang menjadi hiper fokus pada suatu konsep atau pemikiran, berdasarkan dan mengikuti sugesti atau masukan yang dikomunikasikan. Di dalam trance, seseorang menjadi lebih mudah menerima nasihat dan masukan.

Sementara orang mengatakan bahwa hypnosis adalah cara berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar atau alam bawah sadar seseorang. Apa itu pikiran bawah sadar dan alam bawah sadar? Silahkan baca uraian ini: http://goo.gl/iCDNY

Lebih dari sekedar berpeluang menjadi seorang terapis (hypnotherapist), entertainer (stage hypnotist), atau trainer (hypnosis trainer), manfaat terbesar dari hypnosis justru diperuntukkan bagi si pembelajar hypnosis itu sendiri. Sebab:

"There is no such thing as hypnosis, only self-hypnosis."

Ketika seorang hypnotist melakukan hypnosis "terhadap" orang lain (klien), sesungguhnyalah hypnotist itu sedang membimbing sang klien melakukan self-hypnosis untuk dirinya sendiri. Orang yang tidak mau "dihypnosis", tidak akan bisa "dihypnosis".

Ketika seseorang sedang melakukan "self talk", alias sedang berbicara kepada diri sendiri, alias sedang terjadi percakapan di dalam diri sendiri, salah satu dari pihak yang berbicara itu adalah pikiran bawah sadar.

PERCAYALAH, bahwa ketika kita sedang berusaha meyakinkan diri sendiri tentang segala sesuatu, kita sebenarnya sedang melakukan self-hypnosis dengan segala variasi dan tingkatannya. Maka, jika selama ini kita hanya SEKEDAR MELAKUKANNYA BEGITU SAJA, adalah lebih baik lagi jika kita menggunakan cara dan metode yang lebih akrab, lebih ramah, lebih mengerti, lebih paham, dan lebih mengenali diri sendiri. Cara dan metode itu adalah teknik berkomunikasi dengan diri sendiri alias self-hypnosis.

Sebagian besar dari gangguan, hambatan, kendala, dan penyakit, baik yang bersifat fisik maupun mental, didominasi atau setidaknya diawali oleh fenomena-fenomena mental alias internal yang terjadi di dalam pikiran dan perasaan seseorang.

Langkah perbaikan dan bahkan penyembuhan, dapat dilakukan dengan memperbaiki semua fenomena mental atau internal itu.

Note: Hypnosis tidak diposisikan menjadi substitusi bagi perlakuan medis, melainkan melengkapi atau menjadi alternatif.

Berapa banyak dari perilaku kita, yang kita anggap buruk dan merugikan diri sendiri? Berapa banyak dari perilaku kita itu, yang beroperasi, teraktivasi, dan berfungsi seolah-olah tak mampu kita kontrol lagi? Berapa banyak dari perilaku kita itu yang terjadi begitu saja, untuk kemudian kita sesali belakangan?

Berapa banyak keyakinan kita yang kita sadari baik atau buruk bagi diri kita sendiri? Berapa banyak yang tidak kita sadari?

Berapa besar keinginan kita untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dengan segala sikap dan keyakinan yang menumbuhkan dan membesarkan ke arah yang kita inginkan? Berapa sering itu semua hanya tinggal sekedar keinginan dan harapan, seolah kita benar-benar tak mampu menjadikannya sebagai kenyataan kehidupan?

Berapa besar kemauan kita untuk meningkatkan kemampuan kognitif dan intelejensia kita? Berapa besar kita ingin makin mudah mengingat segala sesuatu? Berapa besar keinginan kita untuk makin efektif dan makin efisien sebagai pembelajar?

Bagaimana kita bisa mencari solusi untuk semua ini?

Berbagai perilaku dan kebiasaan alias habits and behaviours yang merugikan:

- Rasa takut yang berlebihan,
- Phobia yang sangat mengganggu kehidupan,
- Ketakutan akan jarum suntik secara tak beralasan,
- Respon perilaku yang salah saat berhadapan dengan sebuah situasi,
- Kebiasaan mengutil dan mencuri yang memalukan,
- Terlalu peka pada rasa sakit yang parah,
- Ketidakmampuan untuk mengalihkan rasa sakit,
- Pola makan yang salah hingga mengalami kegemukan, darah tinggi, serangan jantung,
- Terlalu mudah panik dan cemas.


Program perbaikan diri alias self-improvement yang gagal:

- Kelebihan atau kekurangan dari berat badan yang ideal,
- Kebiasaan menggigit kuku atau menggaruk yang memalukan,
- Gagap dan "tic" yang keterusan,
- Sulit berhenti merokok,
- Kebiasaan menghisap jempol,
- Kebiasan mengompol hingga dewasa,
- Rasa percaya diri yang terus jatuh dan tak tumbuh,
- Stress yang berlebihan mengarah ke depresi,
- Ejakulasi dini yang merusak hubungan suami-istri,
- Reaksi alergi yang berlebihan.


Kemampuan intelektual yang "terlalu standar":

- Kesulitan membaca dan menulis,
- Kesulitan berkomunikasi,
- Daya ingat dan daya hafal yang rendah atau menurun drastis,
- Kemampuan "seni" yang kurang teraktivasi,
- Gaya hidup yang terlalu serius dan kurang rileks,
- Pola tidur yang rusak parah dan mengganggu kesehatan,
- Tingkat konsentrasi yang rendah atau menurun,
- Penyembuhan yang terlalu lambat,
- Terhentinya pertumbuhan kemampuan belajar.


Program pertumbuhan diri alias self-growth yang terganggu:

- Keterlanjuran memilih dan menetapkan keyakinan,
- Keyakinan yang merugikan diri sendiri,
- Ketidakmampuan mengantisipasi masa depan,
- Terjebak pada masa lalu yang suram dan menyedihkan,
- Persepsi diri yang buruk dan negatif,
- Ketidakmampuan menciptakan perilaku untuk esok hari,
- Kegagalan memperbaiki hubungan baik dengan pasangan dan orang lain,
- Rendahnya motivasi diri,
- Kegagalan mendongkrak unjuk kerja dalam karir atau olah raga,
- Menurunnya daya tahan berhadapan dengan berbagai situasi,
- Kegagalan "membayangkan" masa depan,
- Kegagalan menetapkan sasaran dan tujuan (goal setting),
- Tak kunjung bebas dari nuansa berkabung,
- Kemarahan dan emosi yang tak terkontrol,
- Rasa malu yang tak kunjung hilang,
- Rasa malu yang berlebihan dan tak beralasan.
- Kegagalan dalam memaafkan diri sendiri dan orang lain.


Kemanakah kita akan mencari solusi untuk semua itu?

Solusi untuk semua itu tidak hanya berasal dari "luar", tapi lebih dari itu sumber daya utamanya adalah dari "dalam".

Obatnya bukan hanya "chemical substance", lebih dari itu obat utamanya adalah "mental chemistry" di dalam diri sendiri.

Sadar atau tidak sadar, bagi segala kendala, hambatan, penyakit, dan kelemahan yang sumbernya adalah mentalitas, kita meyakini bahwa obat terbaiknya adalah diri sendiri. Siapapun bisa memberi masukan, siapapun bisa menasehati. Siapapun bisa menawarkan obat dan solusi, siapapun bisa menganjurkan cara dan strategi. Nyaris semua nasihat dan anjuran itu, akan bermuara di sini: kekuatan tekad, kemauan, dan komitmen pribadi.

Sungguh benar, jalan keluar terbaik bagi semua persoalan itu adalah tekad yang kuat, kemauan yang besar, dan komitmen pribadi yang tinggi. Pertanyaannya, bagaimanakah kita bisa membangun semua itu menjadi efektif dan efisien?

Ketika kita menyadari bahwa menyikapi, memutuskan, dan melakukan sesuatu itu ternyata menuntut tekad yang kuat, kemauan yang besar, dan komitmen pribadi yang tinggi, sesungguhnyalah ini yang sedang terjadi: kita sedang bergelut dengan diri sendiri. Itu sebabnya, tekad, kemauan, dan komitmen seringkali begitu lemah dan dianggap tidak cukup kuat untuk mengeluarkan diri seseorang dari masalah. Sebab, ia gagal menaklukkan dirinya sendiri. Sikap kritis yang tidak tepat di dalam dirinya, telah menggagalkannya.

Tekad, kemauan, dan komitmen, hanya akan menjadi efektif dan efisien, jika "perlawanan dari dalam" bisa ditekan sampai ke tingkat yang paling rendah. Untuk itu, seseorang harus pandai-pandai mempersuasi dan meyakinkan diri sendiri, tentang segala upaya yang secara sadar dilakukannya.

Salah satu cara terbaik untuk mempersuasi dan meyakinkan diri sendiri, adalah melakukan self-hypnosis.

Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa
Master Trainer E.D.A.N.
Penulis Buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"
Posted on Kamis, Maret 10, 2011 / 0 comments / Pembicara Motivator >>

Selasa, Maret 08, 2011

Pelatihan Hipnotis - Hypnosis Training - Angkatan 4


EVENT:

Hypno-E.D.A.N. - Angkatan 4
"Fundamental Hypnosis, Stage Hypnosis, Hypnotherapy Training"


"Apa Itu Pikiran Bawah Sadar Dan Alam Bawah Sadar" - http://goo.gl/iCDNY
"Manfaat Hypnosis Untuk Diri Sendiri" - http://goo.gl/I1eoe

DUAL CERTIFICATION:
(empat sertifikat)

- CH dan CHt dari Hypno-E.D.A.N.
- CH dan CHt dari Indonesian Board Of Hypnotherapy (IBH)

MATERI:

- Fundamental Hypnosis
- Stage Hypnosis
- Hypnotherapy

INSTRUKTUR:

Ikhwan Sopa - Master Trainer E.D.A.N. CH, CHt, CI
Assue Kevin - Master Trainer BMS CH, CHt, CI
Rizal Suhadi - CH, CHt, CI

HARI/TANGGAL:

Sabtu-Minggu, 09-10 April 2011, (dua hari penuh)

JAM:

08.00-17.00 WIB

TEMPAT:

Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan

INVESTASI:

Rp 2.500.000,- per person untuk dua hari

PENDAFTARAN:

Titik - 0858-78200077
Rizal - 0857-58872292

NOTE:

Bagi Anda yang alumni Hypno-E.D.A.N. Angkatan 1 s.d. 3 (non sertifikasi) silahkan mengikuti ulang dan ikut mendapatkan sertifikat (E.D.A.N. + IBH) dengan ketentuan khusus, silahkan menghubungi kontak di atas.

QA COMMUNICATION
2011
Posted on Selasa, Maret 08, 2011 / 0 comments / Pembicara Motivator >>
 
Copyright © 2011. Ikhwan Sopa - Pembicara Motivasi - Motivator Pengembangan Diri . All Rights Reserved
Theme Design by Herdiansyah . Published by Borneo Templates